‘Mbrojol Duluan

Beberapa jam yang lalu saya baru saja makan bersama pacar saya di restoran BMK alias Bakso Malang Karapitan di mall samping rumah. Karena tata letak restoran-nya yang open-plan dan berdekatan dengan toko-toko di sekeliling, lumayan menarik juga bisa makan sambil melihat-lihat sekeliling dan ‘ngomentarin’ orang yang lalu lalang.

Saat saya sedang tenggelam dalam diskusi panjang bersama si dia, datanglah seorang ibu-ibu bertubuh besar montok bersama anak lelakinya yang berusia sekitar empat tahun, sambil menenteng tas-tas belanjaan dan menempati salah satu meja di dekat meja kami seraya secara bersamaan mengeluarkan suara-suara berisik untuk menenangkan anaknya yang melompat-lompat seperti anak anjing yang baru dilepas dari talinya. Tadinya saya kira dia ngga bawa suaminya, tapi ternyata tak lama kemudian muncullah seorang bapak-bapak yang badannya tak kalah gede nya, sementara anaknya pada saat itu sudah berlari-larian keliling restoran dan balik lagi.

Kelakuan si anak yang melanglang buana mengelilingi area restoran tidak sebegitu mengganggunya dibandingkan dengan kenyataan bahwa orang tua-nya ternyata lebih sibuk makan dan sama sekali tidak peduli bahwa anaknya itu bisa sebentar muncul kemudian sebentar hilang.

Berhubung sedang marak-maraknya aksi penculikan anak di Jakarta, saya heran dengan tingkah laku sepasang orang tua yang saya saksikan tadi, yang sama sekali tidak menunjukkan keinginan mereka untuk menjaga anak mereka - yang kemungkinan semata wayang - dari tangan-tangan para penculik anak. Pastinya mereka juga menonton televisi atau membaca koran, karena sudah banyak para orang tua yang jadi korban diperas habis-habisan hingga ratusan juta untuk menebus anaknya. Apalagi setelah membaca berita terakhir di koran mengenai seorang anak yang hilang selama dua tahun akhirnya ditemukan kembali dan selama ini dia disuruh jadi pengemis di jalanan.

Saya menduga mungkin karena lagi bulan puasa, mereka berpikir pasti para penculik anak itu sedang pada istirahat dan bertobat, maka itulah mereka santai-santai saja nyumpelin muka mereka dengan makanan tanpa mempedulikan perut dan keamanan anaknya sendiri. Padahal dari pengalaman saya yang sudah-sudah, justru di bulan-bulan seperti inilah yang namanya kriminalitas meningkat pesat, kalo nggak, nanti pas pulang kampung bisa diketawain karena nggak bawa duit. Kriminal kan, mudik juga.

Saya jadi berpikir bahwa kasus penculikan anak yang sudah sering terjadi bukan karena anaknya polos dan gampang dibujuk atau baby-sitter nya ngawur dan tidak becus menjaga anak, tapi dikarenakan orang tuanya sendiri yang cuek bebek dan tidak punya keinginan kuat memproteksi anak-anaknya. Kadang saya sendiri suka geli kalau melihat ada ibu-ibu yang lagi ‘ngomelin’ anaknya di depan orang banyak dan saking kesalnya sampai ngumpat-ngumpat dengan kata-kata yang sebenarnya tidak layak digunakan untuk anak kecil, atau yang tampangnya pada kecapean gara-gara anaknya ngga bisa diam minta dibelikan ini dan itu dan juga ngga bisa ngomelin si anak karena takut dibilang pelit atau ngga punya duit sama orang-orang di sekeliling. Sepertinya jauh di lubuk hati mereka seakan menggerutu, “Tau gini mendingan ngga usah bikin.”

Yah, saya sih tidak heran. Mendengar tante saya yang sudah beranak dua dan suaminya yang sekarang gemuk dan berperut buncit seringkali berkata kepada saya seraya sibuk bikin susu buat anaknya yang paling kecil, “…enakan dulu, waktu masih ngejomblo, mau ngapain aja terserah kita…” kemudian di lain waktu saya bertanya kenapa juga punya anak kalau merepotkan dan dia berkilah, “Yah, kalau ngga gitu, hidup kita ngga akan berwarna …”, sehingga membuat saya ragu kalau-kalau menjadi orang tua itu tidak seindah yang digembar-gemborkan orang-orang.

Mungkin mereka-mereka yang sudah berbuntut mau menyesal pun tidak bisa, karena sudah mbrojol duluan, dan ada disitu, ya mau diapain lagi kalau ngga digedein?

Saya hanya bisa berharap agar sehabis itu mereka tidak melanjutkan dengan berkata: “Sukur-sukur diculik, biar gue ngga usah ngurusin lagi …”

4 Responses to “‘Mbrojol Duluan”

  1. Cn Naz Says:

    i just wish that somewhere, tu anak gak lagi lari2 dan nabrak orang yang bawa makanan…..if that happens, what do you think the child’s parents will do?

  2. ..sylvee.. Says:

    did you write this ther? kok tumben pake bahasa indonesia? or was it your bf?

  3. sri nanang Says:

    hahaha gw jg ga tau kalo udah telanjur mbrojol duluan :?)

  4. therry Says:

    cn: i reckon … they’d blame ANYONE but their own offspring hahaha

    salam kenal cn ;)

    syl: yez .. i wrote it … pake indo, biar lebih ‘ekspresif’ … what do u think?

    sns: thats why i intend not to repeat their mistakes :D

Leave a Reply

“We are all manufacturers. Making good, making trouble, or making excuses.” HV Adolt