Stupid Things I’ve heard
#1 “You never know where his eyes will wander when you’re not around. Men just can’t be trusted.”
This was coming from a girl who was in a four-year relationship with her boyfriend and was planning to get married. I feel sorry … for her boyfriend. That poor guy would be tied down forever with a woman who had no confidence on herself, let alone on other people.
#2 “It’s better for him to love you more, not the other way around.”
I’m not against this sentence – everyone is entitled to their own opinions – but I don’t think love is something that you can weigh and measure in more or lesser way. Moreover, I sense that people who say things like this is actually insecure about their own self-worth that they will not trust their heart to anyone at all.
#3 “Relationship is complicated.”
No, it’s not. If it is, it’s because you’re with the wrong person. Expect nothing but the best. Don’t settle for second-best. The more people say those words, the more they believe it’s true. Read “He’s Just Not That Into You” by Greg Behrendt and stick by it.
#4 “When married couples have children, it is natural for the father to end up loving the children more than he loves his wife.”
It baffles me that love between two people who made vows to be hold forever, till death do them apart, could be switched onto another person in a matter of months. If this is in fact, the natural thing to do, then every mother in the world is nothing but womb donors.
Stupid People Write Stupid Things
Tau majalah Hidayah nggak?
Saya kemarin iseng-iseng baca mumpung lagi di stan majalah, semata-mata karena judul pada sampulnya yang ekstrem – saya sendiri lupa jelasnya bagaimana tapi kira-kira bunyinya seperti ini, ‘Anakku Dirampas Karena Aku Memilih Islam.’
Saking naifnya, saya penasaran jadi kepingin membaca artikel yang berisikan cerita tersebut. Yah, mungkin orang-orang seperti saya ini makin langka di dunia, mengira bahwa semua agama di dunia ini sebisa mungkin tidak akan menjelek-jelekkan agama lain secara terbuka dan memedia
Untungnya, kenaifan saya hilang dalam waktu beberapa menit setelah saya selesai membaca – atau tepatnya – screening artikel tersebut. Saya memakai kata screening karena isinya dengan mudah bisa ditebak dan memang pada dasarnya saya pembaca yang super cepat.
Singkatnya, artikel tersebut menceritakan kesaksian seorang gadis Katolik yang berhasrat untuk pindah agama menjadi Islam dan karena keinginannya itu dia disiksa oleh keluarga dan suaminya, sampai akhirnya anaknya sendiri diambil darinya (dari judulnya saja sudah jelas, macam koran Pos Kota yang judulnya sudah menceritakan isinya).
Bagi saya sih sah-sah saja kalau orang ingin pindah agama. Hal itu terjadi setiap hari. Tidak usah dibuat pusing kalau ada yang tiba-tiba merasa lebih sreg dengan agama ini, atau yang itu.Karena kepercayaan saya dari dulu tetap sama: Tuhan itu cuma satu, tidak peduli berapa banyak macam agama yang ada di dunia dan apapun cara manusia untuk mengakui keberadaannya. Seperti yang teman saya Irine pernah beranalogi; orang bisa makan nasi, atau kentang, atau jagung, atau roti, tapi tujuan akhirnya sama, yaitu supaya kenyang.
Namun yang membuat saya benar-benar marah adalah jelas-jelas artikel tersebut ditulis bukan oleh seseorang yang mutlak tadinya penganut agama Katolik, karena bukti-bukti yang ia pakai untuk menunjukkan bahwa ia dulunya seorang Katolik adalah:
1. Dia bilang dia dulu menganut agama Katolik
2. Dia sering pergi ke gereja
Halo.. Semua orang juga tahu kalau orang Katolik itu pergi ke gereja dan pastinya lah ya, menganut agama Katolik. Tapi bukti-bukti apa lagi yang bisa memperjelas, selain dari tadi? Kok, tidak disebut-sebut orang Katolik suka berdoa
Mungkin karena dulu semasa kuliah saya pernah mengambil mata kuliah Critical Thinking – maka artikel tersebut terlihat tidak kredibel dan sangat berat sebelah di mata saya. Orang dengan sedikit otak pun juga bisa melihat kalau artikel itu dibuat semata-mata untuk memprovokasi dan menimbulkan rasa benci umat Islam kepada umat Katolik. Karena kalau bukan itu tujuannya, tidak mungkin si penulis dengan gamblangnya menyebut-nyebut nama agama lain kemudian menjelek-jelekkan dan memfitnah sehingga menimbulkan kesan bahwa semua orang Katolik itu jahat dan sadis semua (Terakhir kali saya cek, definisi orang-orang yang paling sadis itu adalah mereka yang suka membuat bom lalu meledakkannya di tempat-tempat umum).
Saya sering membaca tabloid-tabloid gereja baik dari yang Kristen maupun yang Katolik dan tidak pernah sedikitpun saya jumpai sebuah artikel atau tulisan apapun yang dengan terang-terangan menjelek-jelekkan agama lain seperti yang ada di majalah Hidayah tadi. Kebanyakan juga cerita kesaksian orang yang lumpuh kemudian disembuhkan atau yang tadinya pecandu narkoba kemudian menjadi tobat – tidak percaya? Tonton saja acara Solusi di SCTV tiap minggu malam. Semua orang sudah sibuk dengan persoalan hidupnya sendiri-sendiri tanpa harus campur tangan mengurusi kehidupan orang lain, apalagi memberi nama buruk agama lain.
Dalam perjalanan pulang sayapun berpikir – apa yang menyebabkan orang-orang mempublikasikan hal seburuk itu? Kalau untuk menjelek-jelekkan, saya rasa hal itu malah sudah cukup dilakoni dengan Dan Brown yang menulis Da Vinci Code, sehingga menyebabkan kontroversi besar mengenai kepercayaan Yesus dan apa yang tertulis di Alkitab. Bahkan gambaran Yesus yang ditampilkan sebagai orang yang berkulit putih sampai berkulit hitam pun tidak membuat orang-orang Nasrani kesal. Menurut saya, mereka sama sekali tidak ambil pusing mengenai hal-hal seperi itu.
Maka saya mengambil kesimpulan bahwa sebab utama dari munculnya artikel tersebut adalah satu: Rasa takut. Karena kalau bukan karena takut, mana mungkin ada kasusnya gereja-gereja sampai dibakar, orang mengadakan kebaktian saja dikejam dan dicegah … coba ingat-ingat, yang sering mengadakan aksi bakar membakar tempat ibadah siapa? Sungguh mengherankan, mengingat para pemeluk agama Nasrani adalah minoritas di negara ini. Apa pula yang perlu ditakutkan?
Meskipun pada awalnya majalah itu sempat membuat saya kesal, tapi saya sadar bahwa hanya orang bodoh yang percaya dengan perkataan orang bodoh. Namun apa mau dikata, di Indonesia ini memang jumlah orang yang bodoh lebih banyak ketimbang yang pintar…
Where Did It All Go?
When I was young
I could stretch my imagination to the limits
and found inspirations
from anything that I saw, heard or touched
and the first thing that i did
as soon as i got home from school
was sit in front of my desk
and sketch until 2 in the morning
as if this hand never rested
where did all those creativity go?
i need inspirations.
