Stupid People Write Stupid Things

hidTau majalah Hidayah nggak?

Saya kemarin iseng-iseng baca mumpung lagi di stan majalah, semata-mata karena judul pada sampulnya yang ekstrem - saya sendiri lupa jelasnya bagaimana tapi kira-kira bunyinya seperti ini, ‘Anakku Dirampas Karena Aku Memilih Islam.’

Saking naifnya, saya penasaran jadi kepingin membaca artikel yang berisikan cerita tersebut. Yah, mungkin orang-orang seperti saya ini makin langka di dunia, mengira bahwa semua agama di dunia ini sebisa mungkin tidak akan menjelek-jelekkan agama lain secara terbuka dan memedia massa seperti itu.

Untungnya, kenaifan saya hilang dalam waktu beberapa menit setelah saya selesai membaca - atau tepatnya - screening artikel tersebut. Saya memakai kata screening karena isinya dengan mudah bisa ditebak dan memang pada dasarnya saya pembaca yang super cepat.

Singkatnya, artikel tersebut menceritakan kesaksian seorang gadis Katolik yang berhasrat untuk pindah agama menjadi Islam dan karena keinginannya itu dia disiksa oleh keluarga dan suaminya, sampai akhirnya anaknya sendiri diambil darinya (dari judulnya saja sudah jelas, macam koran Pos Kota yang judulnya sudah menceritakan isinya).

Bagi saya sih sah-sah saja kalau orang ingin pindah agama. Hal itu terjadi setiap hari. Tidak usah dibuat pusing kalau ada yang tiba-tiba merasa lebih sreg dengan agama ini, atau yang itu.Karena kepercayaan saya dari dulu tetap sama: Tuhan itu cuma satu, tidak peduli berapa banyak macam agama yang ada di dunia dan apapun cara manusia untuk mengakui keberadaannya. Seperti yang teman saya Irine pernah beranalogi; orang bisa makan nasi, atau kentang, atau jagung, atau roti, tapi tujuan akhirnya sama, yaitu supaya kenyang.

Namun yang membuat saya benar-benar marah adalah jelas-jelas artikel tersebut ditulis bukan oleh seseorang yang mutlak tadinya penganut agama Katolik, karena bukti-bukti yang ia pakai untuk menunjukkan bahwa ia dulunya seorang Katolik adalah:

1. Dia bilang dia dulu menganut agama Katolik
2. Dia sering pergi ke gereja

Halo.. Semua orang juga tahu kalau orang Katolik itu pergi ke gereja dan pastinya lah ya, menganut agama Katolik. Tapi bukti-bukti apa lagi yang bisa memperjelas, selain dari tadi? Kok, tidak disebut-sebut orang Katolik suka berdoa Rosario, dan punya kepercayaan kepada Allah Tritunggal? Malahan dari awal paragraf sampai akhir, sepertinya si penulis minim pengetahuan soal agama yang - kalau memang benar - sebelumnya diyakini olehnya sampai dua dekade lebih. Malahan dilihat dari gaya tulisannya, orang itu seperti sudah terlahir dengan pengetahuan mengenai agama Islam sejak lahir.

Mungkin karena dulu semasa kuliah saya pernah mengambil mata kuliah Critical Thinking - maka artikel tersebut terlihat tidak kredibel dan sangat berat sebelah di mata saya. Orang dengan sedikit otak pun juga bisa melihat kalau artikel itu dibuat semata-mata untuk memprovokasi dan menimbulkan rasa benci umat Islam kepada umat Katolik. Karena kalau bukan itu tujuannya, tidak mungkin si penulis dengan gamblangnya menyebut-nyebut nama agama lain kemudian menjelek-jelekkan dan memfitnah sehingga menimbulkan kesan bahwa semua orang Katolik itu jahat dan sadis semua (Terakhir kali saya cek, definisi orang-orang yang paling sadis itu adalah mereka yang suka membuat bom lalu meledakkannya di tempat-tempat umum).

Saya sering membaca tabloid-tabloid gereja baik dari yang Kristen maupun yang Katolik dan tidak pernah sedikitpun saya jumpai sebuah artikel atau tulisan apapun yang dengan terang-terangan menjelek-jelekkan agama lain seperti yang ada di majalah Hidayah tadi. Kebanyakan juga cerita kesaksian orang yang lumpuh kemudian disembuhkan atau yang tadinya pecandu narkoba kemudian menjadi tobat - tidak percaya? Tonton saja acara Solusi di SCTV tiap minggu malam. Semua orang sudah sibuk dengan persoalan hidupnya sendiri-sendiri tanpa harus campur tangan mengurusi kehidupan orang lain, apalagi memberi nama buruk agama lain.

Dalam perjalanan pulang sayapun berpikir - apa yang menyebabkan orang-orang mempublikasikan hal seburuk itu? Kalau untuk menjelek-jelekkan, saya rasa hal itu malah sudah cukup dilakoni dengan Dan Brown yang menulis Da Vinci Code, sehingga menyebabkan kontroversi besar mengenai kepercayaan Yesus dan apa yang tertulis di Alkitab. Bahkan gambaran Yesus yang ditampilkan sebagai orang yang berkulit putih sampai berkulit hitam pun tidak membuat orang-orang Nasrani kesal. Menurut saya, mereka sama sekali tidak ambil pusing mengenai hal-hal seperi itu.

Maka saya mengambil kesimpulan bahwa sebab utama dari munculnya artikel tersebut adalah satu: Rasa takut. Karena kalau bukan karena takut, mana mungkin ada kasusnya gereja-gereja sampai dibakar, orang mengadakan kebaktian saja dikejam dan dicegah … coba ingat-ingat, yang sering mengadakan aksi bakar membakar tempat ibadah siapa? Sungguh mengherankan, mengingat para pemeluk agama Nasrani adalah minoritas di negara ini. Apa pula yang perlu ditakutkan?

Meskipun pada awalnya majalah itu sempat membuat saya kesal, tapi saya sadar bahwa hanya orang bodoh yang percaya dengan perkataan orang bodoh. Namun apa mau dikata, di Indonesia ini memang jumlah orang yang bodoh lebih banyak ketimbang yang pintar…

5 Responses to “Stupid People Write Stupid Things”

  1. Elyani Says:

    Therry,

    Karena gak ada postingan baru, ya udah ngomentarin postingan lawas aja deh! Apa yg Therry rasakan juga menjadi bahan pemikiran semua orang yg bisa menerima apa yg dinamakan perbedaan. Tapi sayangnya dinegara kita ini yang katanya menjunjung tinggi asas Ketuhanan Yang Maha Esa, baru sebatas wacana saja. Meski ada kebebasan memeluk agama lain kecuali agama mayoritas, namun toh masih ada ketakutan penganut minoritas akan mempengaruhi penganut mayoritas. Jangankan yang beda agama, lha wong sama2 agamanya saja kalau tidak sepaham dengan ajaran yang diyakini pasti diserang secara mental dan fisik. Susahnya sudah puluhan tahun merdeka, kok ya tidak banyak perubahan.

  2. Therry Says:

    @Elyani:

    Sebenernya postingan ini nggak bakal ada kalau batas kesabaran gw nggak habis, bukannya gimana2 sih, negara ini udah cukup banyak masalah tanpa harus ada pihak-pihak tertentu yang niat banget untuk ngejelek2in agama lain … padahal masih banyak orang2 yg menderita, apalagi yang korban bencana alam.

    Itu yang membuat gw gak habis pikir …

  3. Elyani Says:

    hi3…jadi inget waktu seumuran Therry, aku juga selalu ber-api2 kalau ada sesuatu yg mengabaikan rasa keadilan. Tapi karena sekarang sudah tuwir tinggal asapnya aja yg berasa…apinya udah kriyep2…LOL! Ther, harap maklumlah…di negara kita ini tingkat pendidikan masyarakatnya secara umum kan masih rendah. Orangnya masih gampang dibrainwash, masih menganut hajar dulu adili belakangan…jadi ya kita musti minum pil sabar dosis tinggi. Majalah2 semacam itu pasti banyak peminatnya karena pemahaman yg kurang luas tadi. Lihat aja tahun2 lalu sinetron yg bergenre Hidayah, Hikayah dsb … menjamur dihampir semua stasiun TV. Heran-nya banyak yg suka!!! Padahal mendingan diputerin discovery channel atau animal planet. Masuk akal dan gak ada azab2an. Paling sebel sama istilah ajep2 itu tuh …hihihi!

  4. Therry Says:

    @Elyani:

    Iya, sifat penyabar memang bukan keahlian ku :P

    Ajep2 bukannya lagu dugem? Aku jg benci bgt sama istilah itu :P

  5. Ary Says:

    Gw juga ga suka ama majalah hidayah dsb dan sinetron2 religi yang kaya akan simbol2 religi tapi miskin makna. Bikin bodo yang nonton aja… Hehe…

    But having said that…

    Stupidity bukanlah monopoli orang2 Islam aja lho mba. Walaopun, as a Muslim, saya ga keberatan mengakui kalo sekarang tuh banyak umat Islam yg amat sangat tidak intelek. Dan Stupidity juga bukan hanya monopoli kaum marginal, banyak orang higher ups yang juga a bit dumb.

    Mba pasti tau kan a certain incident yang melibatkan pidato Pope Benedict XVI? Ah hell, I’m gonna do this one in English. It was a speech that aroused a world-wide storm, and coincidentally went well with Bush’s crusade against ‘Islamofascism?’

    The event took place at a German university, and the Pope described what he sees as a huge difference between Christianity and Islam he said the following:

    “… while Christianity is based on reason, Islam denies it. While Christians see the logic of God’s actions, Muslims deny that there is any such logic in the actions of Allah.”

    Moving in for the kill, the Pope then asserted that the prophet Muhammad ordered his followers to spread their religion by the sword. According to the Pope, that is unreasonable, because faith is born of the soul, not of the body. How can the sword influence the soul?

    To support his case, the Pope quoted a 14th century Byzantine Emperor, Manuel II Palaeologus, who (allegedly) said to a Persian Muslim Scholar.

    “Show me just what Muhammad brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached.”

    As a lowly Muslim, I do not hope to compete with the Pope’s divine wisdom. But the things he said did arouse two questions in my mind: 1. Why did the Emperor say them? 2. Why did the Pope quote those words?

    After spending a few hours researching the internet, I can coclude that Manuel II was basically trying to incite the Christian countries against the Turks and convince them to start a new crusade. I’ll spare you the history lessons (you can do your own research if you want) and just tell you that he was trying to prevent the downfall of his kingdom at the hands of the Ottoman Turks who were , again, coincidentally Muslims. The aim was practical, theology was serving politics. In this sense, the quote serves exactly the requirements of George Bush II. He, too, wants to unite the Christian world against the mainly Muslim “Axis of Evil.”

    The pope, as a renowned theologian, could not afford to falsify written texts. Therefore, he admitted that the Qur’an specifically forbade the spreading of the faith by force. He quoted the second Sura, verse 256 (strangely fallible, for a pope, he meant verse 257) which says: ‘There must be no coercion in matters of faith’.

    How can one ignore such an unequivocal statement? The Pope simply argues that this commandment was laid down by the prophet when he was at the beginning of his career, still weak and powerless, but that later on he ordered the use of the sword in the service of the faith. Such an order does not exist in the Qur’an. True, the Prophet did call for the use of the sword in his war against opposing tribes – Christian, Jewish and others – in Arabia, when he was building his state. But that was a political act, not a religious one; basically a fight for territory, not for the spreading of the faith.

    Which brings me to my final question. How could the Pope have failed to see these historical facts? Did he simply choose to ignore these facts? Or was he just plain… umm… well… not very bright? In the context of stupidity, lets just go with the latter. And if the latter is indeed true then it would mean that the leader of the Catholic world, who is a Christian theologian in his own right, did not make the effort to study the history of other religions. And if I were a racist bigot, I would have no qualms in mass generalizing all Christians as stupid, based on the Pope’s mistake.

    As a closing, lemme just say that our Holy Book cleaqrly states that The Christians and the Jews are peoples of the book and therefore deserve our utmost respect. If you come across any incident done by Muslims that pisses you off, please please please try not to mass generalize us. It’s counter-productive to say the least.

    Hello again Ary, that’s a very long comment, you should post in in your blog (if you have one)! Yes, stupidity ada dimana2, termasuk di gedung MPR/DPR juga ;) As a muslim yourself, you are educated, smart and open-minded, which is a good exampe of what a person should be regardless of what his religion he holds.

    I actually have no idea about what the Pope said where and where - although I am a Catholic I don’t exactly follow news about him as it doesn’t interest me.

    I have long left my religion and focus on my relationship with God without the border of religion. I’ve learnt that those who are fanatic with theirs are the ones who need to be watched as they can turn this world upside down instead of making it a peaceful one.

    I have friends who hold different beliefs and the reason why I like them the most is that they don’t let their religion to dictate their lives, especially in a country like Indonesia where religions seem to be the most important thing.

    I apologize, as a human being I often generalize people, and that comes from too many bad experiences of being stared up and down in disgust by veiled women just because I was wearing t-shirt and shorts, of a friend of mine living in Bekasi Timur telling me that her church had been trashed too many times by the clerics who live in the nearby pesantren, of the FPI, who think that violence is the one and only way to solve any problems, of the church and cafes in Bali being blown away by people who think they’re at some kind of holy war.

    Let’s not badmouth each others’ religions and start name-calling and digging past mistakes or Holy Book-warring or whatever it is that people seem to like doing these days. I don’t get why people like FPI sometimes protest about what America does to Afghanistan, and furthermore seem to blame the Jews on absolutely everything. Which was why I wrote this post.

    We have our country to worry about. Its Indonesia we should spend our time and energy to focus on. Stop worrying about what America does, what Israel does. Start caring more, and pay more attention, to Indonesia.

Leave a Reply

“Is this really what you wanna do with your life? Stand in an empty theatre, talking some harvest harvest bullshit?” - Samantha Jones