rss search

next page next page close

Pahitnya Jakarta, Manisnya Semarang

teacupPerbedaan yang paling mencolok antara Jakarta dengan Semarang adalah cara orang-orangnya meminum teh.

Loh, maksudnya? Gini-gini… di Jakarta, kalau kita ke rumah makan dan memesan teh, pasti yang dibawakan adalah teh tawar. Entah hangat atau dingin, pasti rasanya tawar. Kalau mau yang manis, harus pesan terlebih dahulu. Sebenarnya memang lebih baik minum teh tanpa gula, karena lebih sehat dan antioksidan yang terkandung didalamnya juga dapat mencegah berbagai penyakit seperti diabetes dan kencing manis. Tapi lucunya, orang-orang Jakarta adalah yang paling mudah stres dan terserang obesitas!

Nah, orang-orang yang berplat nomor B kalau datang ke kota-kota di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur pasti kebingungan dengan pesanan teh-nya, karena yang terjadi adalah kebalikannya – teh yang dibawakan pasti rasanya manis, entah dingin atau panas. Kalau mau teh tawar, harus pesan terlebih dahulu. Biasanya tehnya disajikan dengan sendok dan gula yang mandek di dasar gelas supaya kita sendiri bisa menentukan takaran manis yang kita mau – yang jelas, gulanya itu sudah disajikan di dalamnya. Namun setelah saya amati lebih jauh, bukan hanya dalam soal teh saja yang berbeda, tapi gaya hidup dan pembawaan orang-orangnya pun tidak jauh dari analogi pahit-manis tadi.

Kalau di Semarang, pembawaan orang-orangnya sangat sopan dan ramah. Sewaktu tunangan saya ke ATM untuk mengambil uang, begitu keluar ia disambut dengan petugas pembersih yang berkata, “Hati-hati mas, jangan sampai ada yang ketinggalan, dicek dulu, semuanya sudah diambil belum (dengan logat yang njowo banget, pastinya).” Nah, kalau di Jakarta orang malah mengharapkan supaya ada yang kelupaan ngambil kembali kartu ATM-nya, syukur-syukur masih dalam keadaan logged-in supaya bisa ngompasin semua uang di dalamnya hingga tak bersisa!

Begitu pahitnya kehidupan orang Jakarta, nyari duit saja susah sampai-sampai duit orang lain pun diembat juga. Saya memperhatikan bahwa orang-orang Semarang dari kalangan bawah hingga keatas pun cukup bahagia dengan hidup mereka masing-masing dan secara umum tampak puas dengan apa yang mereka punya, sehingga sikap mereka terpancar dengan jelas bagi orang lain. Apapun pekerjaan mereka – entah pengamen atau pemilik toko, mereka menunjukkan kadar kesopanan yang sama untuk semua orang yang mereka temui.

Meskipun begitu, bukan manner orang-orang di Semarang yang membuat saya terheran-heran, tapi fakta bahwa sebagian besar penduduk di Jakarta sendiri sebenarnya terdiri dari pendatang-pendatang yang berasal dari luar Jakarta. Kalau mereka-mereka yang dari daerah begitu sopan dan baik, kenapa Jakarta begitu penuh dengan orang-orang yang kasar dan tidak beradab? Apa yang merubah mereka sedemikian rupa sehingga manner mereka bisa menghilang begitu saja?

Saya jadi berpikir bahwa sesungguhnya bangsa kita mempunyai mental yang beradab dan pada dasarnya baik dan jauh dari keserakahan dan keegoisan yang seringkali terpotret dengan jelas pada gambaran tipikal orang-orang Jakarta. Lihat saja lalu lintas Jakarta yang selalu macet dan penuh dengan orang-orang brengsek – dari yang mengemudi motor hingga mobil, semuanya egois dan selalu ingin menang sendiri. Sampai-sampai sewaktu kami sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta (karena tidak tahu saat itu kami sudah memasuki daerah Jawa Barat atau belum) yang kami jadikan patokan adalah kekurangajaran pengendara kendaraan bermotornya – kalau sudah ketemu pengemudi yang reseh dan seenaknya memakai jalan seakan-akan jalanan itu milik mbah-nya, itu artinya kita sudah dekat-dekat Jakarta!

Mungkin kehidupan Jakarta yang serba sulit dimana persaingan begitu ketat, membuat semua orang stres dan depresi, sehingga tidak ada ketenangan hati di dalam diri mereka untuk bisa memperlakukan orang lain dengan baik. Cocok dengan fenomena pahitnya teh yang harus diminum orang-orang Jakarta, karena mereka tidak punya waktu untuk menikmati enaknya menyesap teh dengan gula dan meminumnya pelan-pelan untuk mencium aromanya dan mensyukuri kehidupannya secara luas, mereka lebih memilih meminum teh pahit yang bisa langsung diteguk dalam hitungan detik.

Mereka begitu sibuk mengejar karir, menemui klien, mencari duit dan bekerja hingga larut malam lalu mengumpat-ngumpat karena terjebak macet sehingga lupa untuk menikmati dan mensyukuri hidup dengan anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Dimana di kota-kota kecil orang-orang yang hanya berpekerjakan sebagai pengamen jalanan saja masih sanggup menunjukkan keramahannya kepada mereka yang tidak dikenal, di Jakarta yang begitu penuh dengan orang-orang bermobil mewah mengenakan jas dan dasi pun masih tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri. Meskipun dalam soal uang mereka begitu berkecukupan, namun kestabilan emosi mereka begitu rapuh karena hidup mereka yang masih terasa pahit untuk bisa benar-benar dinikmati.


next page next page close

Could have, Should Have, Would Have

These past few days, I’ve been disturbed by this incident that happened during my tenth year in high school.
It was the last subject before lunchtime, and for some reason,the teacher was unavailable, so the school opted for this year eight female teacher as a substitute.

Just so you can get a clear imagination of what she looked like; this teacher had all the classic blond pornstar-cum-dominatrix look – she had this long platinum blonde hair (fake, of course) which she always did in a high pony tail and she wore very tight clothing that revealed every curves of her body, and shoes that made the clickety-click sound because they were so improperly high. Her face was always heavily made with lined-in lipstick and made up eyes with curved eyelashes that looked as if they had been tortured by some heavy duty mascara. Frankly said, there was no way in a millionth years would she ever fit the image of being a teacher, because the whole appearance was completed as a nightmare by the way she always put on a pouty, irritated look on her face. She probably assumed it was sexy, or something.

Anyway, she swanned in and told the class in a bossy tone that our teacher wasn’t available, so we were to continue what we usually did for that subject, and then she added that just because the teacher wasn’t available it didn’t mean that we could freely study on another subject on our own. It had to be that subject. Fair enough. Didn’t sound all that difficult to comprehend, right?

Just then I remembered that I was taking notes on a scrap paper from the third period that I spent at the library, and not wanting to forget and misplace it, I quickly retrieved it from one of the books in which I slipped the notes in between its pages. All of a sudden I heard platinum blondie shrieking from across the classroom, “Excuse me! You!”

I looked up, expecting that someone must have been caught doing something not to her liking – probably one of the backseated boys, I thought – but to my surprise, she was talking to me. I even had to look around to make sure she wasn’t appointing the wrong person.

“Me?”

“Yes. You. What are you doing? I saw you working on something that isn’t related to this subject. Come here please!”

I approached her in horror – I had never been told off by a teacher before. Ever.

What I remembered the most was how humiliating the whole experience was for me. Not only she scolded me for something so simple – I was basically reorganising my notes, was that a crime? – but she also made me sit on a single table in front of the whole class and continued to do my own study (no other subjects allowed!) in front of everybody, which made me feel like one of those little bad-ass punks who get punished by wearing the dunce cap and stand in the corner front of the class. Even though the whole class didn’t seem to make a big deal out of it, my face was still burning with shame and rage for being treated so unfairly. Even though I tried to explain the whole thing to her, she still didn’t want to hear me.

Immediately I realised that whatever excuses that I gave wouldn’t do any justice on me – she was just having a bad day and wanting to lash it out to someone. It just infuriated me that I had to be the victim for something so ridiculous as that.

Thinking back, I could have screamed obscenities at her. I would have not back down so meekly. I should have returned all her rudeness back at her. Even if she threatened me with a detention, I should have been persistent enough to prove that I wasn’t doing anything wrong. Even better, I should have just walked out of the class and ignored the crap out of her, instead of sitting on that table by myself and holding a grudge. Even if I did end up getting a detention for talking back at her, I would have felt proud to stand up for myself, and the memory would have been a proud one instead of it being disturbing.

When one of those bad memories from the past occur to me, I feel angry with myself for not doing the things that I could have, should have and would have done. But then again, back then I probably wouldn’t have known what to do. Normally I’m a very placid person – I don’t talk back and act rude just to level up to the behavior of others who are doing the same thing. But sometimes I regret myself for behaving so passive because some people really deserve to be yelled obscenities at.

It’s funny how after all these years, bad memories can still come and haunt you in the weirdest hours of the day. It’s not so much the memories that you despise, but it’s more the perseverance that you didn’t have back then. The knowledge that you could have done better and the realisation that you simply cannot redo the past.

But perhaps these memories are meant to appear so that we could do better the next time someone tries to mess with us. Although those who had mistreated us so unfairly don’t probably remember ever doing it, the memories still lingered in the back of our minds and act as a remembrance to be stronger and to stand up for ourselves.


next page next page close

Meet The Parents

Oh-Oh. Though when one of my girl friends asked me whether or not I was going to be nervous about it, I said no. But I was, and I didn’t even realise it.

Recently I’d been busy pampering myself – deep conditioning my hair and tomato masking my face and just recently, body scrubbing my body all over. I just didn’t want to look shabby in front of my future in-laws. Though my beau kept telling me that I looked nice already, I go, “Yeah well I just want to look nicer. What if they saw me and they think I look shabby?”

And I hadn’t even gone through the clothing attires yet. I wondered how much of a freak I’d be when I get to that point. I imagined I’d drive himself crazy going, “Is this nice? What about this, will this go with the meet-the-parents theme thing? This top is not too tight, izzit?”

Sometimes, we fear so much of what others think about us, even though most of the time we don’t even know those people that well. And we tend to forget about the one who is closest to us, who will think of us as a goddess no matter what state we’re in.

When he finally said, “Hunny just relax. As soon as we get there I’m gonna take you out to the best noodle restaurant, and then we’d go eat here…. and there …. and to that restaurant where we can see the whole city from the top…. and the one near the beach …I can’t wait to take you around and show my city to you!”

I gasped and go,”Ohmigod. I’m gonna put on so much weight!”

Sigh. Women.


next page next page close

Where’s The Love?

Saya sering melihat pasangan pria dan wanita di tempat-tempat umum – baik yang masih pacaran atau sudah menikah – yang sepertinya enggan untuk saling bergandengan tangan.

Boro-boro gandengan tangan, saling ngeliat satu sama lain aja nggak mau. Pemandangan yang paling mengenaskan yang sering saya dapatkan adalah di restoran-restoran dimana sepasang pria dan wanita saling makan tanpa adanya interaksi sedikit pun diantara mereka. Kontras sekali dengan anak-anak ABG yang kalau pacaran masih ngobrol ngalor ngidul sembari ketawa-ketiwi, pasangan-pasangan ini bahkan tidak sedikitpun saling melihat ataupun bertukar kata. Benar-benar penganut silence is golden sejati.

Kemarin ini saya sempat main ke Grand Indonesia – shopping centre sekelas Plaza Indonesia yang banyak toko-toko elit-nya – dan saya kembali mendapatkan pemandangan yang sama. Kali ini di eskalator, dimana seorang cewek berambut panjang yang cantik dan modis berdiri di belakang cowoknya, sementara cowoknya sibuk melihat-lihat sekeliling mall. Tentu saja mereka sama sekali nggak sedang gandengan. Saya saja sampai kasihan melihat ekspresi si cewek – meskipun cantik, kelihatan banget kalau dia sedang bete.

Perihal cowok yang matanya jelalatan sih saya sudah hapal banget. Hampir setiap kali saya jalan di mal, selalu saja ada cowok yang sibuk checking-out cewek lain, sementara ceweknya sendiri yang berada disampingnya malah dianggurin. Sepertinya si cewek pun tahu kelakuan cowoknya ini tapi dia memilih untuk diam aja, yang membuat saya terheran-heran. Bagi saya kelakuan cowok macam ini benar-benar unacceptable. Mungkin boleh lah ngeliat-liat sekali-kali, tapi kalau berkali-kali? Kalau soal dianggurin dan males digandeng sama pasangan, saya sendiri sudah pernah ngerasain, dan seperti layaknya cewek-cewek lain, hal itu bikin saya jadi super-bete! Tapi mau protes pun enggan karena takut dikira posesif dan cemburuan!

Sewaktu saya masih jadi karyawan, saya sering nebeng pulang dengan teman saya yang suaminya juga kerja di perusahaan yang sama. Waktu itu teman saya sedang hamil tua, udah gitu perawakannya itu pendek kecil dan imut-imut – saya saja nggak tega ngeliatnya, karena sepertinya dia itu ringkih banget. Yang aneh, kalau teman saya sedang berjalan dengan suaminya, mereka nggak pernah berbarengan. Suaminya bisa berada dua hingga tiga meter jauhnya di depan, sementara teman saya yang perutnya lagi buncit banget itu mengikuti pelan-pelan di belakang. Pemandangan ini membuat saya merasa terganggu, bahkan sampai sekarang, karena bukan seperti itu gambaran hubungan suami-istri yang ada dalam benak saya, dan bukan seperti itu perlakuan yang sepantasnya dari seorang suami kepada istrinya – yang tengah hamil pula! Saya kira pernikahan itu akan membuat orang menjadi bahagia, tapi yang saya lihat adalah setelah orang menikah, mereka malah cenderung memisahkan diri dari pasangannya masing-masing.

Padahal usia perkawinan teman saya itu baru dua tahun. Astaga! Dua tahun aja udah garing kayak gitu, gimana nanti kalau sudah dua puluh tahun, misalnya? Apakah itu sebabnya banyak suami-suami yang selingkuh dan istri-istri yang kecanduan operasi plastik demi mempercantik dirinya – biar suaminya ngga kabur digondol kucing, eh perempuan lain?

Kadang saya terheran-heran melihat orang-orang ini. Dari wajahnya saja sudah kelihatan jelas kalau mereka tidak bahagia, tapi mereka tidak melakukan apa-apa untuk mengubah itu. Padahal kebahagiaan adalah yang dicari oleh semua orang di dunia ini. Saya tidak mengerti, apakah mungkin mereka terlalu takut untuk mencoba mencari sesuatu yang lebih dari yang mereka dapatkan sekarang, atau mungkin mereka berpikir bahwa apa yang mereka punya saat ini sudah cukup? Apakah kalau mereka keluar dari zona nyaman mereka, kemungkinan mereka malahan akan berakhir di posisi yang lebih parah dari sebelumnya?

Nggak heran kalau lagunya Black Eyed Peas yang berjudul Where’s The Love itu ngetop banget. Secara kemungkinan orang-orang itu sadar kalau hidup mereka kekurangan cinta, tapi karena mereka cuma bisa mengekspresikannya dalam nyanyian, ya menyanyilah mereka.

Where’s The Love …?


next page next page close

On Good Book Against The Crappy One

Beberapa bulan yang lalu, saya iseng mampir ke toko buku Gramedia di mal samping rumah dan notice satu buku yang menarik perhatian saya, karena warna sampulnya biru dan berjudul ‘The Naked Traveler – Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia’.


Ha? backpacker cewek Indo keliling dunia? Hebat banget nih orang! Penasaran pengen tahu isinya, saya buru-buru nyari kopian yang sudah dibuka plastik covernya. Begitu ngebaca, bener-bener nggak bisa berhenti. Cerita yang dituturkan bukan semata-mata mengenai pengalaman si backpacker dari satu negara ke negara lainnya macam review untuk backpacker beginners, tapi sarat dengan hal-hal unik dan jenaka yang membuat saya terheran-heran.


Dari yang namanya terpaksa tidur di airport dan diomelin petugas keamanan karena dikira TKW; nonton live pussy show di Thailand yang ternyata performers-nya itu mbok-mbok semua; nyaksiin orang bule Amrik yang niat banget bawa 2 kg rendang dan karena ngga dibolehin oleh petugas Customs, akhirnya si bule ngabisin rendangnya di depan sang petugas saat itu juga; nginep di salah satu pulau di Indonesia kepunyaan orang Italia dan jadi serasa bukan di Indo; bugil-bugilan di Obelisk Beach, Australia, dan main-main ke Andorra yang merupakan negara terkecil di dunia.


Anyway, gara-gara beberapa artikel di dalam buku yang topiknya agak nyerempet (Planet Bugil, Don’t Touch The (Women) Dancers dan Distrik Lampu Merah), buku The Naked Traveler ini di-banned dari publik. Saya juga baru tahu ketika mengunjungi blog-nya Trinity (nama panggilan si penulis), yang merupakan sumber kumpulan cerita di bukunya tersebut. Banyak yang kecewa karena belum sempat beli tapi sudah keburu ditarik, ada juga yang beruntung karena sudah punya bukunya dan sudah baca, lalu protes begitu tahu buku itu di-banned karena isinya sama sekali tidak mengandung unsur-unsur seksual yang menjurus ke hal-hal negatif, bahkan sebaliknya menceritakan pengalaman sang penulis secara gamblang dan apa-adanya dari mata seorang cewek Indonesia asli yang katanya hanya ‘mbak-mbak kantoran biasa’. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap diperbolehkannya buku kontroversial seperti Jakarta Undercover untuk diterbitkan, namun The Naked Traveler yang jujur dan kaya informasi harus ditarik dari peredaran.


Saya sendiri sebenarnya sudah membaca Jakarta Undercover, karena dipanas-panasi teman saya yang bilang ke saya kalau buku itu bagus banget – thanks a lot, Syl! – tapi sesudah membaca, saya jadi benar-benar menyesal karena menghabiskan uang saya untuk buku yang benar-benar bermutu rendah.

Seperti layaknya artikel murahan untuk majalah pria ecek-ecek berisi berbagai macam petualangan seks yang bisa ditemui di Jakarta, Jakarta Undercover sama sekali tidak mempunyai makna maupun moral yang bisa dikaitkan dengan tujuan dituliskannya buku tersebut. Pada awalnya memang saya terkaget-kaget membaca petualangan Moammar Emka ikut-ikutan dengan para esmud berburu pelacur high-class di daerah-daerah tertentu di ibukota, namun baru sampai pada artikel kedua saya sudah merasa bosan, muak dan cenderung melecehkan gaya penulisan Moammar yang sama sekali tidak profesional. Hal ini terlihat dari banyaknya spelling mistakes dan pergantian bentuk jamak dari “saya” kemudian tiba-tiba menjadi “kami” tanpa menjelaskan siapa “kami” itu sebenarnya, ditambah lagi dengan penggunaan titik koma yang berantakan dan tidak beraturan, yang menurut saya sudah mencerminkan secara jelas kualitas Moammar sebagai seorang penulis.


Yang lebih mengejutkan lagi, buku ini dituangkan menjadi film layar lebar dengan judul yang sama – namun jelas isi film sudah digodok ulang dan disensorisasi untuk tidak sekontroversial dan serendah isinya.


Yang menjadi pertanyaan saya adalah:


Mengapa Jakarta Undercover yang begitu vulgar – dan menurut deskripsi saya pribadi seperti layaknya buku guide untuk para pecandu seks di Jakarta – bisa diterima di masyarakat dan tidak pernah diprotes oleh para pemuka agama yang biasanya kalau melihat aksi goyang ngebor saja sudah mencak-mencak? Apakah karena Moammar Emka sendiri berpredikat santri?


Kenapa pula The Naked Traveler, yang merupakan suatu buku sarat informasi, lucu dan begitu honest sampai ditarik dari peredaran? Apakah karena yang menulis adalah seorang cewek bernyali besar dan jelas-jelas mempunyai pengalaman lebih banyak sepuluh kali lipat dibandingkan orang seperti, let’s say, Moammar Emka?


Saking banyaknya permintaan atas diterbitkannya kembali buku The Naked Traveler ini, Trinity memutuskan untuk negosiasi dengan penerbitnya dan mengadakan Pesta Buku Bredel sehingga membuka kesempatan bagi mereka yang pengen beli bukunya tapi belum kesampaian. Beruntunglah saya karena saya sudah membelinya sebelum buku itu di-banned.


Sewaktu membaca The Naked Traveler untuk kesekian kalinya, saya nggak bisa nggak, merasa minder dan ngiri berats. Gimana nggak, dia sudah menjelajahi semua provinsi di Indonesia dan mengunjungi 33 negara di dunia ini – dengan backpacking pula, sementara saya seumur-umur cuma pernah nyatronin 1 negara saja. Namun buku ini benar-benar enjoyable dan memotivasi diri saya yang memang bercita-cita untuk keliling dunia. Bagi Trinity, hal itu bukan impian lagi, dan saya harap saya beserta orang-orang lain yang cukup beruntung untuk bisa membaca The Naked Traveler, juga bisa melakukan hal yang sama.


Moga-moga saja Trinity bisa memperoleh hak menerbitkan kembali bukunya, sehingga membuka lebih banyak mata orang-orang Indonesia terhadap budaya dan adat-istiadat orang di belahan dunia lain, dan memperkaya pengertian dan pemahaman kita untuk mengadaptasi budaya luar kedalam budaya kita sendiri.


“Teori-teorian bodoh yang saya simpulkan sediri dari hasil pengamatan selama traveling adalah semakin jauh letak suatu negara dari garis khatulistiwa, semakin cepat orang di negara tersebut berjalan. Logikanya, semakin jauh dari khatulistiwa maka negara tersebut pasti dingin sehingga orang akan berjalan lebih cepat supaya tidak kedinginan. Perhatikan orang Indonesia, mana ada orang yang berjalan cepat? Saya bahkan beranggapan bahwa semakin dekat suatu negara ke garis khatulistiwa, semakin malas pula orang-orangnya…. Namun sisi positifnya adalah semakin dekat orang tinggal di garis khatulistiwa, maka akan semakin ramah orangnya. Mungkin karena berjalan lambat, mereka lebih punya banyak waktu untuk saling berhaha-hihi satu sama lain. Tuhan Maha Adil!” – dikutip dari Banyak Matahari, Sedikit Jalan Kaki, The Naked Traveler oleh Trinity.


next page

Pahitnya Jakarta, Manisnya Semarang

Perbedaan yang paling mencolok antara Jakarta dengan Semarang adalah cara orang-orangnya...
article post

Could have, Should Have, Would Have

These past few days, I’ve been disturbed by this incident that happened during my...
article post

Meet The Parents

Oh-Oh. Though when one of my girl friends asked me whether or not I was going to be...
article post

Where’s The Love?

Saya sering melihat pasangan pria dan wanita di tempat-tempat umum – baik yang...
article post

On Good Book Against The Crappy One

Beberapa bulan yang lalu, saya iseng mampir ke toko buku Gramedia di mal samping rumah...
article post