Where’s The Love?
Saya sering melihat pasangan pria dan wanita di tempat-tempat umum – baik yang masih pacaran atau sudah menikah – yang sepertinya enggan untuk saling bergandengan tangan.
Boro-boro gandengan tangan, saling ngeliat satu sama lain aja nggak mau. Pemandangan yang paling mengenaskan yang sering saya dapatkan adalah di restoran-restoran dimana sepasang pria dan wanita saling makan tanpa adanya interaksi sedikit pun diantara mereka. Kontras sekali dengan anak-anak ABG yang kalau pacaran masih ngobrol ngalor ngidul sembari ketawa-ketiwi, pasangan-pasangan ini bahkan tidak sedikitpun saling melihat ataupun bertukar kata. Benar-benar penganut silence is golden sejati.
Kemarin ini saya sempat main ke Grand Indonesia – shopping centre sekelas Plaza Indonesia yang banyak toko-toko elit-nya – dan saya kembali mendapatkan pemandangan yang sama. Kali ini di eskalator, dimana seorang cewek berambut panjang yang cantik dan modis berdiri di belakang cowoknya, sementara cowoknya sibuk melihat-lihat sekeliling mall. Tentu saja mereka sama sekali nggak sedang gandengan. Saya saja sampai kasihan melihat ekspresi si cewek – meskipun cantik, kelihatan banget kalau dia sedang bete.
Perihal cowok yang matanya jelalatan sih saya sudah hapal banget. Hampir setiap kali saya jalan di mal, selalu saja ada cowok yang sibuk checking-out cewek lain, sementara ceweknya sendiri yang berada disampingnya malah dianggurin. Sepertinya si cewek pun tahu kelakuan cowoknya ini tapi dia memilih untuk diam aja, yang membuat saya terheran-heran. Bagi saya kelakuan cowok macam ini benar-benar unacceptable. Mungkin boleh lah ngeliat-liat sekali-kali, tapi kalau berkali-kali? Kalau soal dianggurin dan males digandeng sama pasangan, saya sendiri sudah pernah ngerasain, dan seperti layaknya cewek-cewek lain, hal itu bikin saya jadi super-bete! Tapi mau protes pun enggan karena takut dikira posesif dan cemburuan!
Sewaktu saya masih jadi karyawan, saya sering nebeng pulang dengan teman saya yang suaminya juga kerja di perusahaan yang sama. Waktu itu teman saya sedang hamil tua, udah gitu perawakannya itu pendek kecil dan imut-imut – saya saja nggak tega ngeliatnya, karena sepertinya dia itu ringkih banget. Yang aneh, kalau teman saya sedang berjalan dengan suaminya, mereka nggak pernah berbarengan. Suaminya bisa berada dua hingga tiga meter jauhnya di depan, sementara teman saya yang perutnya lagi buncit banget itu mengikuti pelan-pelan di belakang. Pemandangan ini membuat saya merasa terganggu, bahkan sampai sekarang, karena bukan seperti itu gambaran hubungan suami-istri yang ada dalam benak saya, dan bukan seperti itu perlakuan yang sepantasnya dari seorang suami kepada istrinya – yang tengah hamil pula! Saya kira pernikahan itu akan membuat orang menjadi bahagia, tapi yang saya lihat adalah setelah orang menikah, mereka malah cenderung memisahkan diri dari pasangannya masing-masing.
Padahal usia perkawinan teman saya itu baru dua tahun. Astaga! Dua tahun aja udah garing kayak gitu, gimana nanti kalau sudah dua puluh tahun, misalnya? Apakah itu sebabnya banyak suami-suami yang selingkuh dan istri-istri yang kecanduan operasi plastik demi mempercantik dirinya – biar suaminya ngga kabur digondol kucing, eh perempuan lain?
Kadang saya terheran-heran melihat orang-orang ini. Dari wajahnya saja sudah kelihatan jelas kalau mereka tidak bahagia, tapi mereka tidak melakukan apa-apa untuk mengubah itu. Padahal kebahagiaan adalah yang dicari oleh semua orang di dunia ini. Saya tidak mengerti, apakah mungkin mereka terlalu takut untuk mencoba mencari sesuatu yang lebih dari yang mereka dapatkan sekarang, atau mungkin mereka berpikir bahwa apa yang mereka punya saat ini sudah cukup? Apakah kalau mereka keluar dari zona nyaman mereka, kemungkinan mereka malahan akan berakhir di posisi yang lebih parah dari sebelumnya?
Nggak heran kalau lagunya Black Eyed Peas yang berjudul Where’s The Love itu ngetop banget. Secara kemungkinan orang-orang itu sadar kalau hidup mereka kekurangan cinta, tapi karena mereka cuma bisa mengekspresikannya dalam nyanyian, ya menyanyilah mereka.
Where’s The Love …?
On Good Book Against The Crappy One
Beberapa bulan yang lalu, saya iseng mampir ke toko buku Gramedia di mal samping rumah dan notice satu buku yang menarik perhatian saya, karena warna sampulnya biru dan berjudul ‘The Naked Traveler – Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia’.
Ha? backpacker cewek Indo keliling dunia? Hebat banget nih orang! Penasaran pengen tahu isinya, saya buru-buru nyari kopian yang sudah dibuka plastik covernya. Begitu ngebaca, bener-bener nggak bisa berhenti. Cerita yang dituturkan bukan semata-mata mengenai pengalaman si backpacker dari satu negara ke negara lainnya macam review untuk backpacker beginners, tapi sarat dengan hal-hal unik dan jenaka yang membuat saya terheran-heran.
Dari yang namanya terpaksa tidur di airport dan diomelin petugas keamanan karena dikira TKW; nonton live pussy show di Thailand yang ternyata performers-nya itu mbok-mbok semua; nyaksiin orang bule Amrik yang niat banget bawa 2 kg rendang dan karena ngga dibolehin oleh petugas Customs, akhirnya si bule ngabisin rendangnya di depan sang petugas saat itu juga; nginep di salah satu pulau di Indonesia kepunyaan orang Italia dan jadi serasa bukan di Indo; bugil-bugilan di Obelisk Beach, Australia, dan main-main ke Andorra yang merupakan negara terkecil di dunia.
Anyway, gara-gara beberapa artikel di dalam buku yang topiknya agak nyerempet (Planet Bugil, Don’t Touch The (Women) Dancers dan Distrik Lampu Merah), buku The Naked Traveler ini di-banned dari publik. Saya juga baru tahu ketika mengunjungi blog-nya Trinity (nama panggilan si penulis), yang merupakan sumber kumpulan cerita di bukunya tersebut. Banyak yang kecewa karena belum sempat beli tapi sudah keburu ditarik, ada juga yang beruntung karena sudah punya bukunya dan sudah baca, lalu protes begitu tahu buku itu di-banned karena isinya sama sekali tidak mengandung unsur-unsur seksual yang menjurus ke hal-hal negatif, bahkan sebaliknya menceritakan pengalaman sang penulis secara gamblang dan apa-adanya dari mata seorang cewek Indonesia asli yang katanya hanya ‘mbak-mbak kantoran biasa’. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap diperbolehkannya buku kontroversial seperti Jakarta Undercover untuk diterbitkan, namun The Naked Traveler yang jujur dan kaya informasi harus ditarik dari peredaran.
Saya sendiri sebenarnya sudah membaca Jakarta Undercover, karena dipanas-panasi teman saya yang bilang ke saya kalau buku itu bagus banget – thanks a lot, Syl! – tapi sesudah membaca, saya jadi benar-benar menyesal karena menghabiskan uang saya untuk buku yang benar-benar bermutu rendah.
Seperti layaknya artikel murahan untuk majalah pria ecek-ecek berisi berbagai macam petualangan seks yang bisa ditemui di
Yang lebih mengejutkan lagi, buku ini dituangkan menjadi film layar lebar dengan judul yang sama – namun jelas isi film sudah digodok ulang dan disensorisasi untuk tidak sekontroversial dan serendah isinya.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah:
Mengapa Jakarta Undercover yang begitu vulgar – dan menurut deskripsi saya pribadi seperti layaknya buku guide untuk para pecandu seks di
Kenapa pula The Naked Traveler, yang merupakan suatu buku sarat informasi, lucu dan begitu honest sampai ditarik dari peredaran? Apakah karena yang menulis adalah seorang cewek bernyali besar dan jelas-jelas mempunyai pengalaman lebih banyak sepuluh kali lipat dibandingkan orang seperti, let’s say, Moammar Emka?
Saking banyaknya permintaan atas diterbitkannya kembali buku The Naked Traveler ini, Trinity memutuskan untuk negosiasi dengan penerbitnya dan mengadakan Pesta Buku Bredel sehingga membuka kesempatan bagi mereka yang pengen beli bukunya tapi belum kesampaian. Beruntunglah saya karena saya sudah membelinya sebelum buku itu di-banned.
Sewaktu membaca The Naked Traveler untuk kesekian kalinya, saya nggak bisa nggak, merasa minder dan ngiri berats. Gimana nggak, dia sudah menjelajahi semua provinsi di Indonesia dan mengunjungi 33 negara di dunia ini – dengan backpacking pula, sementara saya seumur-umur cuma pernah nyatronin 1 negara saja. Namun buku ini benar-benar enjoyable dan memotivasi diri saya yang memang bercita-cita untuk keliling dunia. Bagi Trinity, hal itu bukan impian lagi, dan saya harap saya beserta orang-orang lain yang cukup beruntung untuk bisa membaca The Naked Traveler, juga bisa melakukan hal yang sama.
Moga-moga saja Trinity bisa memperoleh hak menerbitkan kembali bukunya, sehingga membuka lebih banyak mata orang-orang
“Teori-teorian bodoh yang saya simpulkan sediri dari hasil pengamatan selama traveling adalah semakin jauh letak suatu negara dari garis khatulistiwa, semakin cepat orang di negara tersebut berjalan. Logikanya, semakin jauh dari khatulistiwa maka negara tersebut pasti dingin sehingga orang akan berjalan lebih cepat supaya tidak kedinginan. Perhatikan orang
