rss search

On Good Book Against The Crappy One

line

Beberapa bulan yang lalu, saya iseng mampir ke toko buku Gramedia di mal samping rumah dan notice satu buku yang menarik perhatian saya, karena warna sampulnya biru dan berjudul ‘The Naked Traveler – Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia’.


Ha? backpacker cewek Indo keliling dunia? Hebat banget nih orang! Penasaran pengen tahu isinya, saya buru-buru nyari kopian yang sudah dibuka plastik covernya. Begitu ngebaca, bener-bener nggak bisa berhenti. Cerita yang dituturkan bukan semata-mata mengenai pengalaman si backpacker dari satu negara ke negara lainnya macam review untuk backpacker beginners, tapi sarat dengan hal-hal unik dan jenaka yang membuat saya terheran-heran.


Dari yang namanya terpaksa tidur di airport dan diomelin petugas keamanan karena dikira TKW; nonton live pussy show di Thailand yang ternyata performers-nya itu mbok-mbok semua; nyaksiin orang bule Amrik yang niat banget bawa 2 kg rendang dan karena ngga dibolehin oleh petugas Customs, akhirnya si bule ngabisin rendangnya di depan sang petugas saat itu juga; nginep di salah satu pulau di Indonesia kepunyaan orang Italia dan jadi serasa bukan di Indo; bugil-bugilan di Obelisk Beach, Australia, dan main-main ke Andorra yang merupakan negara terkecil di dunia.


Anyway, gara-gara beberapa artikel di dalam buku yang topiknya agak nyerempet (Planet Bugil, Don’t Touch The (Women) Dancers dan Distrik Lampu Merah), buku The Naked Traveler ini di-banned dari publik. Saya juga baru tahu ketika mengunjungi blog-nya Trinity (nama panggilan si penulis), yang merupakan sumber kumpulan cerita di bukunya tersebut. Banyak yang kecewa karena belum sempat beli tapi sudah keburu ditarik, ada juga yang beruntung karena sudah punya bukunya dan sudah baca, lalu protes begitu tahu buku itu di-banned karena isinya sama sekali tidak mengandung unsur-unsur seksual yang menjurus ke hal-hal negatif, bahkan sebaliknya menceritakan pengalaman sang penulis secara gamblang dan apa-adanya dari mata seorang cewek Indonesia asli yang katanya hanya ‘mbak-mbak kantoran biasa’. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap diperbolehkannya buku kontroversial seperti Jakarta Undercover untuk diterbitkan, namun The Naked Traveler yang jujur dan kaya informasi harus ditarik dari peredaran.


Saya sendiri sebenarnya sudah membaca Jakarta Undercover, karena dipanas-panasi teman saya yang bilang ke saya kalau buku itu bagus banget – thanks a lot, Syl! – tapi sesudah membaca, saya jadi benar-benar menyesal karena menghabiskan uang saya untuk buku yang benar-benar bermutu rendah.

Seperti layaknya artikel murahan untuk majalah pria ecek-ecek berisi berbagai macam petualangan seks yang bisa ditemui di Jakarta, Jakarta Undercover sama sekali tidak mempunyai makna maupun moral yang bisa dikaitkan dengan tujuan dituliskannya buku tersebut. Pada awalnya memang saya terkaget-kaget membaca petualangan Moammar Emka ikut-ikutan dengan para esmud berburu pelacur high-class di daerah-daerah tertentu di ibukota, namun baru sampai pada artikel kedua saya sudah merasa bosan, muak dan cenderung melecehkan gaya penulisan Moammar yang sama sekali tidak profesional. Hal ini terlihat dari banyaknya spelling mistakes dan pergantian bentuk jamak dari “saya” kemudian tiba-tiba menjadi “kami” tanpa menjelaskan siapa “kami” itu sebenarnya, ditambah lagi dengan penggunaan titik koma yang berantakan dan tidak beraturan, yang menurut saya sudah mencerminkan secara jelas kualitas Moammar sebagai seorang penulis.


Yang lebih mengejutkan lagi, buku ini dituangkan menjadi film layar lebar dengan judul yang sama – namun jelas isi film sudah digodok ulang dan disensorisasi untuk tidak sekontroversial dan serendah isinya.


Yang menjadi pertanyaan saya adalah:


Mengapa Jakarta Undercover yang begitu vulgar – dan menurut deskripsi saya pribadi seperti layaknya buku guide untuk para pecandu seks di Jakarta – bisa diterima di masyarakat dan tidak pernah diprotes oleh para pemuka agama yang biasanya kalau melihat aksi goyang ngebor saja sudah mencak-mencak? Apakah karena Moammar Emka sendiri berpredikat santri?


Kenapa pula The Naked Traveler, yang merupakan suatu buku sarat informasi, lucu dan begitu honest sampai ditarik dari peredaran? Apakah karena yang menulis adalah seorang cewek bernyali besar dan jelas-jelas mempunyai pengalaman lebih banyak sepuluh kali lipat dibandingkan orang seperti, let’s say, Moammar Emka?


Saking banyaknya permintaan atas diterbitkannya kembali buku The Naked Traveler ini, Trinity memutuskan untuk negosiasi dengan penerbitnya dan mengadakan Pesta Buku Bredel sehingga membuka kesempatan bagi mereka yang pengen beli bukunya tapi belum kesampaian. Beruntunglah saya karena saya sudah membelinya sebelum buku itu di-banned.


Sewaktu membaca The Naked Traveler untuk kesekian kalinya, saya nggak bisa nggak, merasa minder dan ngiri berats. Gimana nggak, dia sudah menjelajahi semua provinsi di Indonesia dan mengunjungi 33 negara di dunia ini – dengan backpacking pula, sementara saya seumur-umur cuma pernah nyatronin 1 negara saja. Namun buku ini benar-benar enjoyable dan memotivasi diri saya yang memang bercita-cita untuk keliling dunia. Bagi Trinity, hal itu bukan impian lagi, dan saya harap saya beserta orang-orang lain yang cukup beruntung untuk bisa membaca The Naked Traveler, juga bisa melakukan hal yang sama.


Moga-moga saja Trinity bisa memperoleh hak menerbitkan kembali bukunya, sehingga membuka lebih banyak mata orang-orang Indonesia terhadap budaya dan adat-istiadat orang di belahan dunia lain, dan memperkaya pengertian dan pemahaman kita untuk mengadaptasi budaya luar kedalam budaya kita sendiri.


“Teori-teorian bodoh yang saya simpulkan sediri dari hasil pengamatan selama traveling adalah semakin jauh letak suatu negara dari garis khatulistiwa, semakin cepat orang di negara tersebut berjalan. Logikanya, semakin jauh dari khatulistiwa maka negara tersebut pasti dingin sehingga orang akan berjalan lebih cepat supaya tidak kedinginan. Perhatikan orang Indonesia, mana ada orang yang berjalan cepat? Saya bahkan beranggapan bahwa semakin dekat suatu negara ke garis khatulistiwa, semakin malas pula orang-orangnya…. Namun sisi positifnya adalah semakin dekat orang tinggal di garis khatulistiwa, maka akan semakin ramah orangnya. Mungkin karena berjalan lambat, mereka lebih punya banyak waktu untuk saling berhaha-hihi satu sama lain. Tuhan Maha Adil!” – dikutip dari Banyak Matahari, Sedikit Jalan Kaki, The Naked Traveler oleh Trinity.


2 comments

line
  1. Cn Naz

    what’s the blog?? i didn’t know there was such a book! now i want ittttttttttt!!!!

    btw, what exactly is the word verification for…other than to make me blind???

    line
  2. Theresia Madhone Warsito

    ahhh…yez yez i forgot to give the link to the blog. it’s http://naked-traveller.blogspot.com

    the word verification is something I had to use a very long time ago because some people kept sending automated ads and it bugged the hell out of me. This way, the automated ads get rejected b/c of the word verifying thang.

    Yeh I noticed the letters got even longer and more complicated as time goes by. bloody hell.

    shall i just eliminate this comments feature and stick to flooble like your blog, do u think?

    line

Leave a Reply

CommentLuv badge