Love and Marriage, Horse and Carriage
Sinatra wasn’t fooling around when he was singing that song. There are very few people in this world who are only having either one of the elements; You can’t say you’re in love and not wanting to get married. You also can’t say you want to get married and not be in love to the person you’re marrying.
when two people are in love and everything feels right, what is left to expect from them but the celebration of tying them together in a form of marriage? It’s a legal institution that is the dream of most women – and the dread of most men – in the world, and the mystery which holds the entire universe together.
But is it wrong, however, for two people who are in love to not want to get married simply because they cannot see the importance of it?
If then someone responses, “But marriage gives you the security that unmarried couples don’t have!”, does it mean that people who get married are in fact feeling insecured about their relationships that they feel the need to tie it into a bond that can only be broken by divorce?
If then someone also responses, “But if you don’t get married you will be alienated by the society and the rest of your family because it’s simply unacceptable and out of the norm to want to be together forever and yet not married to each other,” does it mean that people who are already married and end up having affairs are more acceptable than those who chose not to get married but remain to be faithful to each other?
If then someone responses yet again, “But don’t you want to declare your love to the whole world?”, does it mean that those who believe that being in a relationship only involves the very two people in it are in fact, mistaken and that it is more acceptable for mothers or fathers-in-laws to interfere about their children’s marriage and let the mistake from their forefathers continues on for the next seventh generation?
And if then someone finally responses, “But don’t you want to make your parents happy and give them the peace of mind knowing that you are in a legal relationship with your partner?”, does it mean that parents earn the rights to be given the peace of mind but the children are not given the same priviledge?
Can’t the world just accept the fact that marriage is no longer a sacred thing because so many people have abused and misused its meaning?
You don’t get married to feel more secure.
You don’t get married because you want to have sex everyday.
You don’t get married to keep your husband on the leash, as what most women tend to think.
You don’t get married because you need to upgrade your social status.
You don’t get married because the world thinks you’re too old not to be married.
You don’t get married to make your parents happy.
You don’t get married because you are worried that it might not happen at all if you keep delaying it – as what some people always say.
You also don’t get married because you think it will make your love stronger – it either is or isn’t.
If it is, in fact, one of the most important phases of people’s lives, then why do I rarely see it giving the happiness that they so deserve out of it?
Parental Crime – Cause and Effect
Kejadian I.
Seorang anak kecil berlari-lari di rumahnya dan menabrak meja, kemudian jatuh dan menangis meraung-raung kesakitan karena dengkulnya memar.
Mami: “Aduhhh…dede…kenapa? Sakit ya?”
Anak: “Huuu…hiiyaa…uu…atttitttt…”
Mami: “Dududuhhh…kacian….atit ya…nakal yaaa mejanyaaa?”
Anak: (bingung tapi mendingan diam daripada disalahin)”Iyaa…mejanya nakaalll..”
Mami: “Pukul ya mejanya!!” (pukul meja) “Mejanya nakall ya…puukul yaaa” (pukul meja lagi)
Anak: (Senang) “Iyaa pukul aja mii…nakal mejanyaa…”
Si anak kemudian lupa dengan rasa sakit di dengkulnya kemudian meneruskan lari-larinya sekeliling rumah. Si mami lega karena anaknya sudah tidak menangis lagi – berisik soalnya. Kemudian, ketika hal yang sama terjadi lagi, si mami pun kembali memukul dan menyalahkan semua benda yang ada di rumahnya, kecuali anaknya sendiri.
Sang anak pun tumbuh dewasa menjadi manusia egois yang selalu menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuat oleh dirinya sendiri, karena itulah yang diajarkan oleh orang-tuanya semenjak kecil.
Kejadian II.
Sang anak yang baru lulus SMA tidak kepingin kuliah dan sebaliknya ingin langsung kerja saja. Orang-tua pun mencak-mencak dan ngamuk-ngamuk.
Papi: “Pokoknya kamu harus kuliah! Nggak bisa nggak!”
Anak: “Aduh papi… Otong mendingan langsung kerja aja, biar bisa nyari duit… Otong pengin lebih mandiri…lagian kuliah itu mahal, sayang duitnya…Otong ama temen-temen udah mulai bikin kaos-kaosan di distro, hasilnya lumayan kok…”
Papi: “Papi ga peduli!! Anak papi harus punya gelar!! Nggak bisa nggak!”
Anak: “Duh papi..kuliah di Indo tuh susah…temen-temen Otong aja yang udah kuliah ampe delapan tahun kagak lulus-lulus… mendingan Otong langsung kerja aja..biar papi juga tenang..
Papi: “Apa nanti kata orang kalau tau anak papi cuma lulusan SMA??? Emangnya kamu kira gampang cari kerja cuma dengan ijazah SMA?? Pake tuh otak!! Pokoknya enggak, sekali lagi NGGAK!!!”
Sang anak pun akhirnya menuruti keinginan papinya dengan setengah hati, mengambil kuliah jurusan umum yang diambil orang-orang lain (Akuntansi / Manajemen) dan karena memang tidak suka dan tidak kepingin, akhirnya banyak mata pelajaran yang tidak lulus, dan ini membuat si papi semakin berang dan marah, sehingga sang anak makin kehilangan semangat belajarnya.
Sang anak sering mengambil cuti kuliah karena ia lebih suka konsentrasi ke bisnis distro nya. Dan ini makin membuat si papi uring-uringan karena sudah lima tahun Otong belum lulus-lulus juga. Akhirnya setelah di-push, di paksa dan disodok-sodok (pakai sapu hihihi), Otong pun lulus, namun hal itu memakan waktu delapan tahun serta biaya kuliah yang habis terpakai, dan semua itu dikarenakan keinginan egois sang papi yang menginginkan dan ingin membanggakan anaknya untuk punya gelar, tidak peduli bahwa anaknya sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, tanpa embel-embel gelar sarjana.
Kejadian III
Orang-tua menawarkan anaknya kuliah di luar negri, dan sang anak dengan senang hati pun menyetujui. Ketika sang anak lulus dengan hasil gemilang, orang-tuanya menyuruh si anak pulang dan karena ingin menunjukkan baktinya, sang anak pun pulang untuk menyenangkan hati orang-tuanya.
Papi: “Nul, kamu kan udah lulus nih sekarang… kamu terusin bisnis papi ya…papi udah tua nih, bentar lagi mau pensiun, sayang kan usaha papi nanti kalau nggak ada yang nerusin…”
Anak: “Tapi pi..Inul mau jadi tukang salon… waktu kuliah di Kanada, Inul sadar kalau Inul punya bakat di bidang kecantikan…temen-temen Inul demen banget didandanin ama Inul…makanya Inul pikir pulang ke Indo, buka salon, pasti laku…tiga bulan, udah balik modal koq!”
Papi: “Buka salon???????????” (pura-pura kena stroke dan menghempaskan tubuh di bangku malas sambil megap-megap)
Mami: “Nulll, Inulll…. kalau mau buka salon mah ngapain kita nguliahin kamu sampai ke ujung dunia segala, udah aja kamu tetep di Indo, magang kerja ama Tante Meike sana…Null Inulll…kamu anak mami dan papi satu-satunya, bisnis toko elektronik papimu itu udah gede banget, cabangnya aja ada dimana-mana, kamu udah enak, tinggal duduk doang, ngapain kamu mau cape-cape mulai buka usaha sendiri, padahal kamu tinggal nerusin yang udah ada??”
Anak: “Tapi Mi…hati Inul bukan di toko elektronik…hati Inul ada di salon Mi…kayaknya ini emang udah bakat yang dikasih Tuhan buat Inul… masa Inul mau nyuekin bakat Inul..”
Papi: (masih megap-megap, tapi karena marah) “Nul… kamu kok tega sih? Papi udah ngabisin duit beratus-ratus juta buat kamu sekolah di Kanada, sekarang cuma disuruh nerusin usaha papi aja kamu kagak mau????”
Akhirnya sang anak menyetujui titah orang tuanya untuk meneruskan usaha toko elektronik milik keluarga. Namun hal ini dilakukan dengan setengah hati, dan tidak dengan perasaan bahagia. Setiap hari sang anak memimpikan mempunyai usaha di bidang yang ia inginkan, namun impian itu kandas di tengah jalan dan ia hanya bisa menunggu hingga orang tuanya sudah tiada agar ia bisa mewujudkan cita-citanya tersebut, karena baru menyebut kata “salon” saja orang-tuanya sudah mendelik.
Namun saat waktu itu tiba, umur sang anak sudah tidak produktif, kreatifitas dan semangatnya untuk memulai usahanya sendiripun sudah hilang dimakan waktu, disebabkan rasa bersalah yang terus-menerus ditekankan oleh orang tuanya.
