Pahitnya Jakarta, Manisnya Semarang

In: Uncategorized

26 Dec 2007

teacupPerbedaan yang paling mencolok antara Jakarta dengan Semarang adalah cara orang-orangnya meminum teh.

Loh, maksudnya? Gini-gini… di Jakarta, kalau kita ke rumah makan dan memesan teh, pasti yang dibawakan adalah teh tawar. Entah hangat atau dingin, pasti rasanya tawar. Kalau mau yang manis, harus pesan terlebih dahulu. Sebenarnya memang lebih baik minum teh tanpa gula, karena lebih sehat dan antioksidan yang terkandung didalamnya juga dapat mencegah berbagai penyakit seperti diabetes dan kencing manis. Tapi lucunya, orang-orang Jakarta adalah yang paling mudah stres dan terserang obesitas!

Nah, orang-orang yang berplat nomor B kalau datang ke kota-kota di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur pasti kebingungan dengan pesanan teh-nya, karena yang terjadi adalah kebalikannya – teh yang dibawakan pasti rasanya manis, entah dingin atau panas. Kalau mau teh tawar, harus pesan terlebih dahulu. Biasanya tehnya disajikan dengan sendok dan gula yang mandek di dasar gelas supaya kita sendiri bisa menentukan takaran manis yang kita mau – yang jelas, gulanya itu sudah disajikan di dalamnya. Namun setelah saya amati lebih jauh, bukan hanya dalam soal teh saja yang berbeda, tapi gaya hidup dan pembawaan orang-orangnya pun tidak jauh dari analogi pahit-manis tadi.

Kalau di Semarang, pembawaan orang-orangnya sangat sopan dan ramah. Sewaktu tunangan saya ke ATM untuk mengambil uang, begitu keluar ia disambut dengan petugas pembersih yang berkata, “Hati-hati mas, jangan sampai ada yang ketinggalan, dicek dulu, semuanya sudah diambil belum (dengan logat yang njowo banget, pastinya).” Nah, kalau di Jakarta orang malah mengharapkan supaya ada yang kelupaan ngambil kembali kartu ATM-nya, syukur-syukur masih dalam keadaan logged-in supaya bisa ngompasin semua uang di dalamnya hingga tak bersisa!

Begitu pahitnya kehidupan orang Jakarta, nyari duit saja susah sampai-sampai duit orang lain pun diembat juga. Saya memperhatikan bahwa orang-orang Semarang dari kalangan bawah hingga keatas pun cukup bahagia dengan hidup mereka masing-masing dan secara umum tampak puas dengan apa yang mereka punya, sehingga sikap mereka terpancar dengan jelas bagi orang lain. Apapun pekerjaan mereka – entah pengamen atau pemilik toko, mereka menunjukkan kadar kesopanan yang sama untuk semua orang yang mereka temui.

Meskipun begitu, bukan manner orang-orang di Semarang yang membuat saya terheran-heran, tapi fakta bahwa sebagian besar penduduk di Jakarta sendiri sebenarnya terdiri dari pendatang-pendatang yang berasal dari luar Jakarta. Kalau mereka-mereka yang dari daerah begitu sopan dan baik, kenapa Jakarta begitu penuh dengan orang-orang yang kasar dan tidak beradab? Apa yang merubah mereka sedemikian rupa sehingga manner mereka bisa menghilang begitu saja?

Saya jadi berpikir bahwa sesungguhnya bangsa kita mempunyai mental yang beradab dan pada dasarnya baik dan jauh dari keserakahan dan keegoisan yang seringkali terpotret dengan jelas pada gambaran tipikal orang-orang Jakarta. Lihat saja lalu lintas Jakarta yang selalu macet dan penuh dengan orang-orang brengsek – dari yang mengemudi motor hingga mobil, semuanya egois dan selalu ingin menang sendiri. Sampai-sampai sewaktu kami sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta (karena tidak tahu saat itu kami sudah memasuki daerah Jawa Barat atau belum) yang kami jadikan patokan adalah kekurangajaran pengendara kendaraan bermotornya – kalau sudah ketemu pengemudi yang reseh dan seenaknya memakai jalan seakan-akan jalanan itu milik mbah-nya, itu artinya kita sudah dekat-dekat Jakarta!

Mungkin kehidupan Jakarta yang serba sulit dimana persaingan begitu ketat, membuat semua orang stres dan depresi, sehingga tidak ada ketenangan hati di dalam diri mereka untuk bisa memperlakukan orang lain dengan baik. Cocok dengan fenomena pahitnya teh yang harus diminum orang-orang Jakarta, karena mereka tidak punya waktu untuk menikmati enaknya menyesap teh dengan gula dan meminumnya pelan-pelan untuk mencium aromanya dan mensyukuri kehidupannya secara luas, mereka lebih memilih meminum teh pahit yang bisa langsung diteguk dalam hitungan detik.

Mereka begitu sibuk mengejar karir, menemui klien, mencari duit dan bekerja hingga larut malam lalu mengumpat-ngumpat karena terjebak macet sehingga lupa untuk menikmati dan mensyukuri hidup dengan anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Dimana di kota-kota kecil orang-orang yang hanya berpekerjakan sebagai pengamen jalanan saja masih sanggup menunjukkan keramahannya kepada mereka yang tidak dikenal, di Jakarta yang begitu penuh dengan orang-orang bermobil mewah mengenakan jas dan dasi pun masih tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri. Meskipun dalam soal uang mereka begitu berkecukupan, namun kestabilan emosi mereka begitu rapuh karena hidup mereka yang masih terasa pahit untuk bisa benar-benar dinikmati.

8 Responses to Pahitnya Jakarta, Manisnya Semarang

Avatar

Ivan Petrus

December 27th, 2007 at 10:50 am

Haha emang paling enak tinggal di luar Jakarta. Kota ini emang cuma buat tempat cari duit. Gw denger Semarang emang kotanya nyaman banget, orangnya ramah2. Disana ada tempat maen apa aja Ther?

Avatar

Theresia

December 28th, 2007 at 9:42 am

Apa ya… Lawang Sewu? Wuekeke.. disono mah kebanyakan tempat makan, krn kerjaannya org Semarang makan mulu huhuhu…palingan kalo mau maen2 ke pantainya atau ke Semarang atas yang udaranya dingin dan banyak restoran dgn pemandangan seluruh Semarang..

Tapi enak2 lho makanannya, bahkan yang tendaan pula. Gue pas disono sempet nyicipin mie jowo, soto kudus, sate ayam, wedang ronde, ermm apalagi yah… oiya lumpia semarang pastinya wekeke…

trus 2 hari sebelum pulang gue malah meriang.. HALAH

bener2 ga cihuy bgt ga seh…

Avatar

Cn Naz

December 28th, 2007 at 3:01 pm

mungkin jakarta itu udah kayak new york, yang dimana tingkat kesopanan udah gak bisa ditebak lagi. when everyone’s nasty and too busy to care….selamat datang di ibukota!!!

Avatar

Theresia

December 28th, 2007 at 11:45 pm

…and yet, it attracts people from all over the country as the city of opportunity…where there are so many jobs available for everyone on so many backgrounds!!!

Avatar

ika

February 21st, 2008 at 9:16 am

saya dari lair ampe sekarang tinggal di semarang,,hehe ya sih yang mbak bilang ichu bechul sekali,,,wong2 semarang itu pancen enak2,,nyenengin,,kekeke that’s why i don’t even think about staying out of this town,,hihihi :D

selain itu makanan murah , saya yang cuman buruh pabrik ini makan siang paling2 cuman 2500-3000 udah komplit tuh (maksudnya nasi + sayur + tahu tempe).. :)

selaen kota semarang nya sendiri mungkin perlu dicoba juga berwisata ke area semarang atas or kabupaten semarang yang banyak country view na..banyak bule2 demen jalan2 di persawahan,,hehe..udara juga bersih dan segar..

Avatar

Elyani

February 21st, 2008 at 9:40 am

Therry,

Gak usah jauh2…di Bogor yg cuma beda 1 jam aja orang2nya masih lebih ramahlah dibanding dengan penduduk Jakarta. Fenomena hidup dikota besar mungkin rumusnya di-mana2 sama. Serba grasa-grusu, gak ada tata krama dan perilaku masyarakatnya cenderung menyebalkan. Yg sudah diatas melihatnya selalu keatas lagi, sementara yg dibawah terobsesi dengan kehidupa virtual yg banyak ditayangkan sinetron2 kita.

Tapi aku perhatikan dinegara lain juga sama. Sebagai contoh di Kanada misalnya. Kalau kita pergi di sekitar Vancouver, terlihat sekali orang2nya menjaga jarak dan strictly business. Tapi di kota kecil kalau kita belanja di Wall Mart pun kasirnya selalu dengan dengan ramah dan senyum terkembang menanyakan kabar kita meski sekedar basa basi. Tapi keramahan kota kecil seperti analogi teh pahit dan teh manis itu berlaku juga ditempat lain.

Di Singapore orang2nya juga susah senyum. Lihat saja wajah2 bagai robot di MRT, hawker centres dsb. Kadang2 suka mikir…apa mereka berwajah lurus, kaku tanpa senyum itu karena sudah dari sononya atau kena virus manyun…hihihi!

Avatar

Therry

February 21st, 2008 at 10:15 am

@Ika:

Yup, betul bgt, keqnya di daerah2 itu orang bisa menikmati hidup tanpa harus terobsesi dengan uang, tidak seperti orang-orang Jakarta.

Saya waktu ke Semarang sempet main ke Semarang Atas dan Salatiga … udaranya benar2 bersih dan enak … mau pulang juga rasanya enggan :D

@Elyani:

Yang membuat aku bingung … orang-orang Jakarta itu kan asalnya dari daerah juga ya kan?? Lalu kenapa begitu mereka tiba di Jakarta, kesopanan dan keramahtamahan itu semua mendadak hilang ya?

Apa karena kehidupan di Jakarta yang kelewat keras, dan orang-orangnya yang rata-rata egois, sehingga mau nggak mau jadi ikut terbawa arus?

Avatar

Senol

October 6th, 2008 at 6:14 pm

Sebenarnya dimana-mana kalau ibukota jauh beda dengan kota2 lain. Kebanyakan Ibukota biasanya penuh dengan kesibukan, kejauhan, kekotoran, ketidakramahan dll..Sedangkan kalau kota2 kecil adalah kota2 yang lebih nyaman, sepi, penuh dengan orang2 ramah dan baik. karena kalau kota2 besat seperti jakarta banyak orang dari kota2 lain dari negera2 lain..kebanyakan stress karena kesusahan kehidupan di kota besar..kalau orang stres susah menjadi ramah.

wassalam.

Comment Form

About this blog

Therrysays.com is a personal blog where I share my thoughts, opinions and rants about life in Indonesia and beyond. If this all sounds good to you, enjoy your stay, but if it isn't your cuppa tea, then kindly leave and let me be! Cheers.

  • wien: ther... udalah.. ga usa dipikirin lagi.. let go lah.. :p [...]
  • emedofdautt: [...]
  • emmy: u deserve to get the place u belong to, the life u dream on, the home u get comfy with. life is too [...]
  • k: Hi :) Thanks for reminding me the lovely things about melbourne. I have lived here for 12 years now [...]
  • Ivy: Totally love this entry....you have a way of bringing your readers into your position and feel all t [...]

 

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

MyBlogLog

Adopt a Puppy!

Photobucket

I am on Globalpost.com!

Image and video hosting by TinyPic

Copyrights & Hits

Blog Archives

StatPress

Visits today: 50