In: Uncategorized
19 Aug 2008Saya seringkali melihat tayangan berita di televisi lokal yang akhir-akhir ini sedang marak menayangkan aksi heroik para polisi dan aparat keamanan menggerebek para pelaku PSK alias Pekerja Seks Komersial ataupun orang-orang yang dicurigai sedang melakukan perbuatan maksiat.
Terus terang saya geli melihatnya; setiap tahun, pada musim yang sama pula, tayangan berita seperti ini selalu muncul lebih sering dari biasanya. Anehnya juga, banyak orang yang meskipun tidak suka dengan fakta ini namun tidak bisa juga untuk tidak menonton. Mungkin karena seru, atau sekedar penasaran saja pengen tahu seperti apa tampang para PSK tersebut. Jangankan mereka, saya saja penasaran, karena toh sejauh yang sudah saya lihat tidak ada yang badannya se-aduhai Inul atau parasnya secantik Kris Dayanti.
Memang, para PSK ini secara harafiah ‘menjual badan’ dan profesinya bisa dikategorikan sebagai penjual jasa yang menggunakan fisik mereka sebagai mediumnya. Kadang-kadang saya merasa kasihan melihat para ‘Kupu-kupu Malam’ tersebut, karena toh tujuan mereka melakukan hal itu adalah sama seperti kita semua, yaitu untuk mendapatkan sesuap nasi. Mungkin disamping menjadi pelacur di waktu malam, mereka pun punya hobi, entah senang membaca, mendengarkan musik atau kehidupan lainnya, sama seperti kita semua. Satu-satunya yang membedakan kita dengan mereka adalah pekerjaan mereka itu menurut hukum di negara ini dinilai sebagai tindakan asusila dan tidak bermartabat.
Tunggu dulu.
Martabat?
Bukankah para polisi dan aparat yang sedang sibuk menangkapi para PSK tersebut juga pastinya sering menerima uang suap? Setidaknya para PSK tersebut masih ‘bekerja’ untuk mendapatkan uang, bukan hanya berdiam diri di perempatan jalan mengandalkan seragam dan hak tilang-menilang yang membuat orang-orang pada segan, ya kan?
Ngaku saja deh, siapa sih dari kita semua yang kalau mendengar kata polisi, pikirannya tidak langsung melayang ke deskripsi saya di atas?
Ditambah lagi, sungguh menggelikan kalau tuduhan ‘menjual fisik’ dipakai untuk menuntut perempuan-perempuan ini bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.
Bagaimana dengan karyawan-karyawan kantoran yang sibuk lembur hingga larut malam, sehingga tidak pernah punya waktu untuk keluarganya, lalu di masa tuanya merepotkan anak cucunya karena harus bolak-balik masuk rumah sakit?
Bagaimana dengan artis-artis yang rela disiksa mati-matian dengan diet radikal yang mengharuskan mereka keluar masuk salon seminggu sekali agar tubuh dan penampilannya bisa dipermak habis-habisan sehingga sesuai dengan gambaran ‘image’ cantik di media?
Bagaimana dengan pejabat-pejabat pemerintah yang rela mengambil uang rakyat demi bisa membelikan mobil Lamborghini untuk anaknya yang kuliah di luar negeri, sementara banyak orang-orang miskin di jalanan yang meskipun ada yang pincang, putus kaki dan tangan, kena kusta, dan dikerubungin lalat berseliweran di samping mobil mewah mereka saja dianggap seperti angin lalu?
Yah, kalau dipikir-pikir, sepertinya para PSK itu masih lebih ‘murni’ dibandingkan orang-orang yang saya sebut diatas. Saya sendiri berteman dengan seorang wanita yang boleh dikatakan profesinya adalah pekerja malam. Dan tahukah Anda? Dia adalah orang yang sangat baik, jujur dan apa adanya. Dia tahu pekerjaannya itu bukan sesuatu yang mulia, tapi ia tidak menyembunyikan fakta tersebut. Berbagai masalah yang dirundungnya, dari tidak punya pekerjaan tetap sampai ditinggal pacarnya saat hamil dan harus melakukan aborsi, diceritakannya kepada saya dengan terus terang, tanpa ditutup-tutupi. Dan hal ini membuat saya kagum. Jarang sekali ada orang yang punya keberanian untuk mengakui bahwa hidupnya tidaklah sempurna. Bolehkah dibilang kalau teman saya ini menjual jiwa? Sebab bagi saya dia lebih punya ‘jiwa’ ketimbang kebanyakan orang-orang yang saya temui.
Bahkan kebanyakan rekan-rekan saya di kantor dulu adalah orang-orang yang sok dan mati-matian “jaga image”, hingga ada beberapa yang menganggap diri mereka lebih baik dari orang lain. Karena itulah, saya mempunyai lebih banyak respek kepada teman saya si pekerja malam dibandingkan dengan teman-teman kantor saya yang rela berbohong, menjilat, menusuk sesama rekan kerja dari belakang dan banyak lagi macam politik kantor lainnya yang dilakukan demi mendapatkan uang, jabatan, kekuasaan dan entah apa lagi.
Kalau para PSK ini menjual fisik, boleh lah dibilang rekan-rekan di kantor saya dulu, termasuk artis-artis yang hobi operasi plastik dan para pejabat korup diatas tadi adalah jenis manusia yang masuk kategori “manusia yang menjual jiwa”. Ya, karena mereka rela melakukan hal yang salah dan tidak punya hati nurani maupun keberanian untuk mengakui mereka salah. Seperti orang yang sudah kepalang basah; sudah salah, ya diteruskan saja, toh tidak akan digerebek polisi ini, ya kan?
Lagipula, kalau saya boleh benar-benar jujur, tindakan para aparat yang bersikap ’seakan-akan’ ingin menertibkan ini sungguh kelewatan bodohnya. Setiap tahun ditangkapi, tahun depan ada lagi, kemudian stasiun televisi akan menayangkan hal yang sama lagi, seperti semacam tradisi sakit yang tidak disadari sudah digemari dan menggerogoti mental berjuta-juta penonton televisi di negara ini, ditambah lagi disponsori iklan-iklan yang memasang kedok mengimbuhkan pemirsa untuk menjadi ’suci’ dan saling memaafkan sekaligus promosi produk dengan teknik repetitif untuk cuci otak supaya pemirsa di rumah jadi semakin konsumtif dari hari ke hari.
Daripada bersusah-susah buang uang negara, waktu dan energi, kenapa pemerintah Indonesia tidak sediakan saja vending machine yang menjual kondom dan promosikan Safe Sex, atau lebih baik lagi, legalkan saja bisnis prostitusi dan dijadikan salah satu tujuan pariwisata seperti yang dilakukan pemerintah di Thailand. Mungkin dengan begitu masing-masing kita akan punya lebih banyak waktu untuk introspeksi diri dan menyadari bahwa kita tidak lebih baik dari para PSK di televisi tersebut, lalu berhenti menonton tayangan berita kacangan yang dari tahun ke tahun tidak berubah dan berhenti menjual jiwa kita kepada perusahaan, pekerjaan, jabatan, image dan kekuasaan.
(Yah, mungkin kalau begitu kejadiannya, nanti stasiun televisi tidak laku lagi dong, hehehehe.)
Therrysays.com is a personal blog where I share my thoughts, opinions and rants about life in Indonesia and beyond. If this all sounds good to you, enjoy your stay, but if it isn't your cuppa tea, then kindly leave and let me be! Cheers.
12 Responses to Menjual Jiwa
Lorraine
August 19th, 2008 at 11:04 pm
Setuju banget Ther. Setidaknya mereka masih berusaha/terpaksa harus cari penghasilan dan jujur dengan profesi mereka. Gw lebih respek ke orang2 yg seperti ini.
Tapi kok istilahnya Pekerja Seks Komersial sih? Berarti secara ngga langsung ada dong Pekerja Seks non Komersial.
Jennie
August 20th, 2008 at 12:21 am
You’re very wise, Therry, much wiser than many people your age (including yours truly, I was a partyyy girl when I was in 20s). I totally agree. I have some “similar” experiences with a person quite close to me, he was a “pengeretan” and I said to him, “You know what? Even those prostitutes and gigolos are much more dignified than you. At least they work hard within their limitations.”
My love for you Therry has escalated one level higher (or deeper, whatever).
Keep writing and hopefully someday I’ll read a book (or books!) authored by Therry Says. {{{A strong pat in the back!!!}}}
santi d
August 20th, 2008 at 12:21 am
Hi Therry! Salam kenal dari Santi di Munich. Gw liat link elo dari blognya the Writer, dan seneng ngikutin postingan elo yang vokal dan kritis.
PSK profesi yang umurnya hampir sama dengan peradaban manusia, dan selalu dihina2 heheh. Di Jakarta dulu sempet ada lokalisasi PSK di Kramat Tunggak kalu ngga salah yaa … apa masih ada? Walopun belum sampai dijadiin obyek turis, tapi dulu tujuannya supaya kegiatan PSK lebih bisa diawasi, katanya.
Iya, kalau kita bisa seperti di Belanda dan Thailand yang menturiskan PSK, akan banyak juga devisa yang masuk (dengan catatan kalau masuk ke kas negara hehehe). Tapi pemerintah kita ngga akan mau kali ya terang2an menjadikan bisnis PSK sebagai sumber dana pembangunan hehe.
John Doe
August 20th, 2008 at 5:08 am
Sebenarnya drpd repot2 dikejar-kejar, digerebek, dsb. — selain membuang waktu juga membuang tenaga, lebih baik diregulasi saja: spy bs ditarik pajak secara legal. Pungli dibersihkan, germo di-ilegalkan. Tp PSK-nya sendiri bs bekerja secara legal, dan bs ditarik pajak.
Untuk damage control pihak-pihak yg bermoral, bisa juga uang hasil pajaknya disubsidi silang seperti pajak dr rokok, kalau rokok subsidi silang ke olah raga, pajak dr PSK disubsidi silang ke pembangunan rumah ibadah, sekolah atau panti asuhan misalnya.
Bs jg pajaknya untuk menjaga standard kesehatan PSK itu sendiri, krn kalao standardnya meningkat — otomatis ekonomi PSK dan daerah/industri sekelilingnya bs meningkat: makanan, minuman, perhiasan, pakaian, kosmetik, kontrasepsi, bahkan mungkin hingga industri teknologi tinggi seperti bedah plastik misalnya. Buntutnya ? Of course: more taxes !
Idealnya memang begini sih~ tp yah, eksekusinya di Indo memang susah he he he.
Elyani
August 20th, 2008 at 8:36 am
Ther, sebetulnya Surabaya bisa menjadi contoh untuk masalah prostitusi seperti yag diceritakan diatas. Waktu aku pertama kesana, sengaja minta teman untuk nganterin ke Gang Dolly yg sangat terkenal itu (lihatnya dari dalam mobil yg jalan-nya pelan2…gak turun). Di sepanjang Gang Dolly kita bisa melihat para perempuan berjejer di etalase kaca ditingkahi musik dangdut atau campursari. Kalau tidak salah di Gang Dolly ini terdapat hampir 900 buah wisma dengan jumlah PSK kurang lebih 8000`an menurut laporan Jawa Pos.
Yang menarik, meski lokalisasi seperti Gang Dolly belum memiliki kekuatan hukum seperti lokalisasi di negara2 maju (Belanda misalnya), keberadaan tempat ini sudah diakui oleh pemkot Surabaya, karena bisnis ini juga memberikan penghidupan bagi orang2 sekitar yg membuka warung, atau lahan parkir bagi para tamu. Disana belum pernah terdengar tuh penggerebekan ala FPI atau polisi2 yg banci kamera TV. Dengan sempitnya lapangan kerja, mungkin sudah saatnya lokalisasi tidak lagi dipandang sebagai hal yg terlarang dan taboo, tetapi sebagai bagian dari roda ekonomi yg harus diatur oleh hukum sehingga para pekerjanya mendapatkan rasa aman.
koko
August 20th, 2008 at 10:07 am
ya pejabat-pejabat itu gak ada yang mau beli badannya…udah gendut gitu dan penuh kolesterol..gimana lagi coba..
rimafauzi
August 20th, 2008 at 5:05 pm
gw setuju banget.. dulu gw pernah post writingnya Andre Vlthcek.. itu dia nulis something kaya gini..
touching dan bener banget.
menurut gw pornografi dan imoralitas itu bukanlah black and white. koruptor, ulama yang fundamental, anggota pemerintah yang membiarkan rakyanya mati kelaparan dan banyak lainnya itu jauh lebih imoral dan pornografis dibanding PSK atau orang orang lainnya yang mrk tuduh ‘mengotori’ indonesia.
sayangnya, lebih banyak org apatis mengenai ini..
ecky
August 20th, 2008 at 5:20 pm
Wow Therry…. agree with Jennie you are wiser than people in your age maybe even wiser than me
From what I heard, kalo abis penggerebekan gitu kadang Pak Polisi juga minta jatah preman dari PSK itu, maksudnya ya minta dilayanin gretongan gitu, mereka menggunakan power untuk menindas PSK yang pada dasarnya juga udah susah, bayangin aja demi mencari sesuap nasi dan sepiring berlian mereka harus rela menjual diri dan merendahkan harga diri mereka untuk melayani para lelaki yang baru mereka kenal dan mereka juga harus menerima perlakuan yang tidak wajar dari Polisi yang katanya melindungi dan melayani rakyat.
M
August 20th, 2008 at 8:14 pm
eh gue juga pernah nulis soal prostitusi di Norway vs Indo Ther di blog. kalo di Norway, prostitusi itu legal, tapi pelanggan nya yang dikejar2. soalnya para prostitute nya kan yang harus dilindungi, mereka lemah, gak berduit dan sering di abuse pula. kalo ada pilihan lain, mereka akan melakukan yang lain kok. sering kali mereka jadi pelacur karena dari kecil udah di abuse sexually. that’s why they have to be protected. mereka harus merasa nyaman dengan keberadaan polisi, bukan terancam.
but the sex maniacs who possess money are the people who shud be punished. seenak mereka, karena punya duit, apa aja bisa dibeli kah???
i disagree with free sex, but i think it’s none of my business. but prostitution is a social crime. i disagree and it’s our business.
Liem A huan
September 2nd, 2008 at 12:39 am
Indon sama spt malasia..Sinting n muna..Anggota dpr tolol, mpr dungu = rakyat gembel. Kalian smua yg bodoh mau plh org2 tolol jd pjabat
My Name Is Eru » Blog Archive » Award From And For
September 4th, 2008 at 10:58 am
[...] Therry Says She’s Bold yep everytime you read her blog, you’ll think that she’s a bold, brave.. fast and furious person
(judul felm banget dah) haha… blognya yang mainly in English ini bagus banget buat belajar bahasa inggris, ilustrasi dan desain dia lucu-lucu ( walo artorwknya Therry-centric
) dan kritik dia, protes dia, pemaparan dia bener-bener ga tanggung-tanggung dan menyeluruh (pokoknya gini ya gini, gitu ya gitu) Intinya sih no one can stop her… just no one! [...]
novi
September 10th, 2008 at 11:09 am
PSK itu akan selalu ada selama masih ada yang nyari….jadi rasanya emang nggak pantes kalo cuma menghujat satu pihak aja….inget lagu kupu2 malam kan?…ada yang benci, ada yang butuh…yahhh begitulah yang namanya realitas hidup…..