<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Therrysays.com &#187; culture</title>
	<atom:link href="http://therrysays.com/tag/culture/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://therrysays.com</link>
	<description>"We are all manufacturers. Making good, making trouble, or making excuses." HV Adolt</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jul 2010 16:20:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>In Spirit of the Upcoming Election</title>
		<link>http://therrysays.com/2009/01/in-spirit-of-the-upcoming-election/</link>
		<comments>http://therrysays.com/2009/01/in-spirit-of-the-upcoming-election/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 19:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>therry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian government]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://therrysays.com/?p=902</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;d just like to share some posters that I thought really depict the creativity of our future leaders. Brace yourself fellas, these posters are like nothing you&#8217;ve ever seen before.



Aren&#8217;t they just fabulous? They&#8217;re tastefully done and very convincing, aren&#8217;t they? I&#8217;m sure the Indonesian mass love our future leaders for being so humorous and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I&#8217;d just like to share some posters that I thought really depict the creativity of our future leaders. Brace yourself fellas, these posters are like nothing you&#8217;ve ever seen before.</p>
<p><span id="more-902"></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-903" title="Taking advantage of the infamous dancing daughter" src="http://therrysays.com/wp-content/uploads/2009/01/rafflynlamusu.jpg" alt="Taking advantage of the infamous dancing daughter" width="400" height="533" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-906" title="It's a plane! It's a bird! A green bird! Oh no!!! It's..." src="http://therrysays.com/wp-content/uploads/2009/01/egymassadiah.jpg" alt="It's a plane! It's a bird! A green bird! Oh no!!! It's..." width="400" height="300" /></p>
<p>Aren&#8217;t they just fabulous? They&#8217;re tastefully done and very convincing, aren&#8217;t they? I&#8217;m sure the Indonesian mass love our future leaders for being so humorous and clever while promoting themselves. I mean, a green Superman &#8211; genius or what?And the whole father-using-daughter&#8217;s popularity-as-leverage is just pure awesomeness, I wouldn&#8217;t have thought about that at all!</p>
<p>Bravo guys, bravo!</p>
<p><em>PS: Cynthia Lamusu is an Indonesian celebrity famous for her performance on a TV show equivalent to that So You Think You Can Dance show. Rafflyn, is the father. Apparently.</em></p>
<p><em>I&#8217;m still considering whether the second poster is actually a hoax or not. Somebody can clue me in?  It&#8217;s just too good to be true.</em></p>
<p><em>PPS: Thanks <a href="http://richoz.org" target="_blank">Richoz</a> for the images!<br />
</em></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Ftherrysays.com%2F2009%2F01%2Fin-spirit-of-the-upcoming-election%2F';
  addthis_title  = 'In+Spirit+of+the+Upcoming+Election';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://therrysays.com/2009/01/in-spirit-of-the-upcoming-election/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kere, atau Serakah?</title>
		<link>http://therrysays.com/2008/12/kere-atau-serakah/</link>
		<comments>http://therrysays.com/2008/12/kere-atau-serakah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 07:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>therry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://therrysays.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[
Kalau makan di Pizza Hut, orang biasanya tidak pernah melewatkan sajian salad-nya yang menggiurkan itu, dimana kita bisa milih sendiri sayuran dan segala tetek bengek yang ada disitu, beserta saus-sausnya yang beragam. Kebanyakan orang menggunakan kesempatan &#8220;sekali ngambil&#8221; ini untuk menumpuk salad sebanyak-banyaknya di mangkuk yang kecil itu.
Entah siapa yang mempopulerkan kebiasaan &#8220;menumpuk salad&#8221; di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-851" title="Pile it up like there's no tomorrow!" src="http://therrysays.com/wp-content/uploads/2008/12/pizzasalad.jpg" alt="Pile it up like there's no tomorrow!" width="448" height="500" /></p>
<p>Kalau makan di Pizza Hut, orang biasanya tidak pernah melewatkan sajian salad-nya yang menggiurkan itu, dimana kita bisa milih sendiri sayuran dan segala tetek bengek yang ada disitu, beserta saus-sausnya yang beragam. Kebanyakan orang menggunakan kesempatan &#8220;sekali ngambil&#8221; ini untuk menumpuk salad sebanyak-banyaknya di mangkuk yang kecil itu.</p>
<p><span id="more-850"></span>Entah siapa yang mempopulerkan kebiasaan &#8220;menumpuk salad&#8221; di Pizza Hut ini. Saya jadi ingat dulu waktu saya kecil, saat kami sekeluarga sedang makan-makan di restoran yang sama, saya pergi mengambil salad juga, namun tidak pakai sistem tumpuk-menumpuk seperti yang dilakukan oleh orang-orang, karena saya takut tidak bisa menghabiskannya &#8211; seperti yang ibu saya selalu mengajarkan, &#8220;Janganlah membuang-buang makanan&#8221;. Begitu saya kembali ke meja, salah seorang anggota keluarga yang melihat mangkuk saya kontan berkata, &#8220;Yah, rugi banget cuma ngambil segitu. Mestinya tadi ngambil yang banyakan dong! Sayang, udah bayar mahal-mahal!&#8221;</p>
<p>Sekarang kalau saya mengingat-ingat lagi kenangan di masa kecil itu, saya jadi berpikir, sebenarnya, siapakah yang paling <em>kere</em> disini? Saya, yang mengambil sesuai dengan apa yang bisa saya makan, atau mereka yang menumpuk makanan di mangkuk mereka sebanyak-banyaknya, tidak peduli apakah mereka bisa menghabiskan semua makanan tersebut atau tidak? Karena dengan jumlah bayaran yang sama per-mangkuk, saya mengambil jatah yang lebih sedikit, sedangkan mereka mengambil dengan lebih banyak. Apakah karena dengan harga per mangkuk tersebut, orang-orang sudah merasa mereka semestinya bisa mendapatkan lebih dari yang seharusnya?</p>
<p>Mungkinkah dengan harga sekian rupiah per mangkuk tersebut, bagi kebanyakan orang sudah merupakan harga yang terlalu mahal untuk tidak mengambil porsi makanan sebanyak-banyaknya?</p>
<p>Ditambah lagi, saya terus terang saja merasa bingung melihat ada yang menumpuk sayur-sayuran seperti jagung, buncis, wortel, telur rebus dan kentang, bawang bombay, lalu ditambah dengan semangka, melon, dan agar-agar rasa strawberry dan jeruk, kemudian menyiram semua kombinasi makanan tersebut dengan saus mayones dan <em>Thousand Island</em>. Saya tidak bisa membayangkan rasanya seperti apa &#8211; melihat saja sudah bikin geli, apalagi kalau disuruh makan seluruh kombinasi makanan tersebut dalam satu mangkuk.</p>
<p>Makanan, menurut saya, adalah sesuatu yang harus dinikmati dari rasa, bukan dari porsinya. Semakin banyak kuantitas makanan yang ada di piring saya tidak menjamin bahwa makanan itu bisa menjadi lebih enak.  Membuat saya lebih gemuk iya, tapi tidak lebih enak.</p>
<p>Mungkin ini adalah salah satu efek samping dari kebiasaan buruk bangsa kita &#8211; mengambil lebih dari yang kita sanggupi, dan merasa kita berhak mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan uang yang telah kita bayar. Bahkan, apabila memungkinkan, lebih banyak dari yang kita bayar.</p>
<p>Saya kadang berpikir; sejak kapan pula bangsa kita telah sedemikan diperbudaknya dengan uang, karena segala-galanya kini diukur dengan uang; segala-galanya diukur dengan pemikiran untung dan rugi. Kalau sudah begini, pantaskah saya bertanya; mental bangsa ini sebenarnya mental <em>kere</em>, atau serakah?</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Ftherrysays.com%2F2008%2F12%2Fkere-atau-serakah%2F';
  addthis_title  = 'Kere%2C+atau+Serakah%3F';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://therrysays.com/2008/12/kere-atau-serakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Not About The Money</title>
		<link>http://therrysays.com/2008/10/its-not-about-the-money/</link>
		<comments>http://therrysays.com/2008/10/its-not-about-the-money/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 14:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>therry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[corporate bullshit]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://therrysays.com/?p=665</guid>
		<description><![CDATA[Some people think that just because they have money and they&#8217;re paying me to do a job, they think they can treat me like shit. And when I have enough and refuse to work, they think I&#8217;m being an asshole.

I think there&#8217;s something seriously disturbing about the way working people are being treated in this [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Some people think that just because they have money and they&#8217;re paying me to do a job, they think they can treat me like shit. And when I have enough and refuse to work, they think I&#8217;m being an asshole.</p>
<p><span id="more-665"></span></p>
<p>I think there&#8217;s something seriously disturbing about the way working people are being treated in this country. True, most people use money as their motivation to work (which is the lowest point of motivation to do anything), but that doesn&#8217;t mean they can accept being treated badly by their employers or contractors.</p>
<p>It&#8217;s the fact that they accept to be conditioned that way that is the reason why mean employers can get away with it. The whole mindset of &#8220;I pay you therefore I own your ass&#8221; is somehow understandable and tolerable.</p>
<p>It&#8217;s not. Well at least <em>I</em> won&#8217;t accept it. Just because most people in Indonesia are obsessed with money and are even willing to die for a mere Rp.30,000.- doesn&#8217;t make me one of them.</p>
<p>No, it&#8217;s not about the money.</p>
<p>It&#8217;s about appreciation.</p>
<p>It&#8217;s about respecting the people who <em>made you</em> the contractor, or the employer, or the CEO of a sky-high building, or some giant empire, or whatever.</p>
<p>It&#8217;s about knowing that you used to be one of them (except for the case of those who&#8217;re born and fed with silver spoons), doing all the work and putting all the effort into creating the best work possible, one that makes <em>you</em>, on top of everyone else, proud of it.</p>
<p>I don&#8217;t know why some people find it <em>so</em> difficult to understand.</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Ftherrysays.com%2F2008%2F10%2Fits-not-about-the-money%2F';
  addthis_title  = 'It%26%238217%3Bs+Not+About+The+Money';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://therrysays.com/2008/10/its-not-about-the-money/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Money, Money, Money</title>
		<link>http://therrysays.com/2008/09/money-money-money/</link>
		<comments>http://therrysays.com/2008/09/money-money-money/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 10:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>therry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian government]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://therrysays.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;ve just realised that for those who reside in Jabodetabek, one cannot simply get out of the house and seek entertaintment without having to spend any money at all.
Let&#8217;s run a test case. 
So where do I want to go today?

Let&#8217;s say I want to take my dog out for a walk, maybe to the nearest [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I&#8217;ve just realised that for those who reside in Jabodetabek, one <em>cannot</em> simply get out of the house and seek entertaintment without having to spend any money at all.</p>
<p>Let&#8217;s run a test case. </p>
<p>So where do I want to go today?</p>
<p><span id="more-606"></span></p>
<p>Let&#8217;s say I want to take my dog out for a walk, maybe to the nearest park. You know, get some fresh air and let my dog runs around freely, perhaps sit on one of the benches and read a good book.</p>
<p>Oh but wait. There are no parks in Bekasi! Who am kidding? And what used to be called <em>Alun-alun Kota</em> is now full of hawkers selling food, not to mention there are rubbish everywhere &#8211; totally ruin the mood, right?</p>
<p>Okay then, let&#8217;s go to the Kelapa Gading mall. Last option, maybe.</p>
<p>So I drive out of the house &#8211; oh wait, petrol&#8217;s running out, gotta get me some more, so Rp.50,000 comes out, <em>kaching</em>! first expense. </p>
<p>I get into a U-turn in which it is jammed with cars everywhere because apparently everyone wants to go to the malls during the weekend. There is a Mr. <em>Cepe</em> nearby who&#8217;s busy managing the traffic (I don&#8217;t know why they&#8217;re called Mr. Cepe since they don&#8217;t even take Rp.100 anymore), so I wind down my car window and give him Rp.500, <em>kaching</em>! Another expense.</p>
<p>Then it&#8217;s straight into the freeway, where I have to pass through two gates and spend Rp. 8000 in total. </p>
<p>Once I get to the mall, I have to find parking spaces, which can be quite a challenge but not totally impossible. Once I step out, and get inside the air-conditioned mall, what&#8217;s next? Looking for some clothes, maybe, or go have coffee at some cafe?</p>
<p>I don&#8217;t go to Starbucks but let&#8217;s say I do. I order a frapper or something. <em>Kaching</em>! Another Rp.50,000 comes out. And if I decide to have lunch at the food court or one of the restaurants, I probably have to spend around Rp. 50,000 to 200,000, depends on what food I&#8217;ll be needing to damage my weight control. </p>
<p>And after spending around 5 hours in the mall walking around and doing window shopping, it&#8217;s finally time to go home. Better get some money out to pay the parking fee. Usually in huge malls, an hour equals to Rp.3000 so it all totals up to Rp.15,000.- and don&#8217;t forget I also have to spend the same Rp. 8000 I spent earlier for freeway fee.</p>
<p>Alrighty. Now that I&#8217;m safe and home and playing with my dog, let&#8217;s calculate how much I&#8217;ve spent in that one day alone. </p>
<ul>
<li>Petrol &#8211; 50,000</li>
<li>Mr. <em>Cepe</em> &#8211; 500</li>
<li>Cofee &#8211; 50,000</li>
<li>Food, let&#8217;s say &#8211; 100,000</li>
<li>Parking fee &#8211; 15,000</li>
<li>Freeway &#8211; 16,000</li>
</ul>
<p>Which adds up to&#8230; 231,500!</p>
<p>In one day! Phew.</p>
<p>Maybe it is true. One needs a lot of money to be able to actually enjoy living here. Otherwise it&#8217;s still hard work and no play. It&#8217;s really a mystery to me how a family of 3 children can still survive, with the expensive cost of living these days. I read in the newspaper weeks ago that a family of three, with one baby daughter was living in debt despite both the parents working full time, why?</p>
<p>Because their combined income was only Rp. 3 million nett, which was not enough for their minimum 5 million permonth expense in order to survive, let alone hire a baby-sitter.</p>
<p>No wonder everyone&#8217;s so obsessed with money. It doesn&#8217;t matter whether you will get an increase in your salary, what you get won&#8217;t simply be enough for the increase of goods and services everywhere. If you get about 10% increase, you end up having to pay 20% more, so that increase on your salary actually works against you.</p>
<p>With the increase petrol and freeway fees every 2 years or so, things will only continue get even more expensive.</p>
<p>Which result in more people doing extreme things to earn more dimes, like the Jasa Marga employees who nick profits out of the cars in the freeway, which explains why their toilets get so clogged up with fake receipts whenever there is an investigation on site.</p>
<p>People picking up rotten meat and <em>ayam tiren</em> (short for <em>ayam mati kemaren</em>) to be dyed, seasoned and resold to the public because buying fresh meat is too expensive.</p>
<p>The streets of Kali Malang to be damaged and uneven because the government keeps buying cheap cement to fix it and keep the rest of the wads in their own pockets.</p>
<p>Everything is counted by money, everything is done in the name of money and yet with all the money some people have they are still not satisfied.</p>
<p>Go figure.</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Ftherrysays.com%2F2008%2F09%2Fmoney-money-money%2F';
  addthis_title  = 'Money%2C+Money%2C+Money';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://therrysays.com/2008/09/money-money-money/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjual Jiwa</title>
		<link>http://therrysays.com/2008/08/menjual-jiwa/</link>
		<comments>http://therrysays.com/2008/08/menjual-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 03:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>therry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://therrysays.com/2007/09/26/menjual-jiwa/</guid>
		<description><![CDATA[Saya seringkali melihat tayangan berita di televisi lokal yang akhir-akhir ini sedang marak menayangkan aksi heroik para polisi dan aparat keamanan menggerebek para pelaku PSK alias Pekerja Seks Komersial ataupun orang-orang yang dicurigai sedang melakukan perbuatan maksiat.
Terus terang saya geli melihatnya; setiap tahun, pada musim yang sama pula, tayangan berita seperti ini selalu muncul lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya seringkali melihat tayangan berita di televisi lokal yang akhir-akhir ini sedang marak menayangkan aksi heroik para polisi dan aparat keamanan menggerebek para pelaku PSK alias Pekerja Seks Komersial ataupun orang-orang yang dicurigai sedang melakukan perbuatan maksiat.</p>
<p>Terus terang saya geli melihatnya; setiap tahun, pada musim yang sama pula, tayangan berita seperti ini selalu muncul lebih sering dari biasanya. Anehnya juga, banyak orang yang meskipun tidak suka dengan fakta ini namun tidak bisa juga untuk tidak menonton. Mungkin karena seru, atau sekedar penasaran saja pengen tahu seperti apa tampang para PSK tersebut. Jangankan mereka, saya saja penasaran, karena toh sejauh yang sudah saya lihat tidak ada yang badannya se-aduhai Inul atau parasnya secantik Kris Dayanti.</p>
<p><span id="more-85"></span></p>
<p>Memang, para PSK ini secara harafiah &#8216;menjual badan&#8217; dan profesinya bisa dikategorikan sebagai penjual jasa yang menggunakan fisik mereka sebagai mediumnya. Kadang-kadang saya merasa kasihan melihat para &#8216;Kupu-kupu Malam&#8217; tersebut, karena toh tujuan mereka melakukan hal itu adalah sama seperti kita semua, yaitu untuk mendapatkan sesuap nasi. Mungkin disamping menjadi pelacur di waktu malam, mereka pun punya hobi, entah senang membaca, mendengarkan musik atau kehidupan lainnya, sama seperti kita semua. Satu-satunya yang membedakan kita dengan mereka adalah pekerjaan mereka itu menurut hukum di negara ini dinilai sebagai tindakan asusila dan tidak bermartabat.</p>
<p>Tunggu dulu.</p>
<p>Martabat?</p>
<p>Bukankah para polisi dan aparat yang sedang sibuk menangkapi para PSK tersebut juga pastinya sering menerima uang suap? Setidaknya para PSK tersebut masih &#8216;bekerja&#8217; untuk mendapatkan uang, bukan hanya berdiam diri di perempatan jalan mengandalkan seragam dan hak tilang-menilang yang membuat orang-orang pada segan, ya kan?<br />
Ngaku saja deh, siapa sih dari kita semua yang kalau mendengar kata polisi, pikirannya tidak langsung melayang ke deskripsi saya di atas?</p>
<p>Ditambah lagi, sungguh menggelikan kalau tuduhan &#8216;menjual fisik&#8217; dipakai untuk menuntut perempuan-perempuan ini bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.</p>
<p>Bagaimana dengan karyawan-karyawan kantoran yang sibuk lembur hingga larut malam, sehingga tidak pernah punya waktu untuk keluarganya, lalu di masa tuanya merepotkan anak cucunya karena harus bolak-balik masuk rumah sakit?</p>
<p>Bagaimana dengan artis-artis yang rela disiksa mati-matian dengan diet radikal yang mengharuskan mereka keluar masuk salon seminggu sekali agar tubuh dan penampilannya bisa dipermak habis-habisan sehingga sesuai dengan gambaran &#8216;image&#8217; cantik di media?</p>
<p>Bagaimana dengan pejabat-pejabat pemerintah yang rela mengambil uang rakyat demi bisa membelikan mobil Lamborghini untuk anaknya yang kuliah di luar negeri, sementara banyak orang-orang miskin di jalanan yang meskipun ada yang pincang, putus kaki dan tangan, kena kusta, dan dikerubungin lalat berseliweran di samping mobil mewah mereka saja dianggap seperti angin lalu?</p>
<p>Yah, kalau dipikir-pikir, sepertinya para PSK itu masih lebih &#8216;murni&#8217; dibandingkan orang-orang yang saya sebut diatas. Saya sendiri berteman dengan seorang wanita yang boleh dikatakan profesinya adalah pekerja malam. Dan tahukah Anda? Dia adalah orang yang sangat baik, jujur dan apa adanya. Dia tahu pekerjaannya itu bukan sesuatu yang mulia, tapi ia tidak menyembunyikan fakta tersebut. Berbagai masalah yang dirundungnya, dari tidak punya pekerjaan tetap sampai ditinggal pacarnya saat hamil dan harus melakukan aborsi, diceritakannya kepada saya dengan terus terang, tanpa ditutup-tutupi. Dan hal ini membuat saya kagum. Jarang sekali ada orang yang punya keberanian untuk mengakui bahwa hidupnya tidaklah sempurna. Bolehkah dibilang kalau teman saya ini menjual jiwa? Sebab bagi saya dia lebih punya &#8216;jiwa&#8217; ketimbang kebanyakan orang-orang yang saya temui.</p>
<p>Bahkan kebanyakan rekan-rekan saya di kantor dulu adalah orang-orang yang sok dan mati-matian &#8220;jaga image&#8221;, hingga ada beberapa yang menganggap diri mereka lebih baik dari orang lain. Karena itulah, saya mempunyai lebih banyak respek kepada teman saya si pekerja malam dibandingkan dengan teman-teman kantor saya yang rela berbohong, menjilat, menusuk sesama rekan kerja dari belakang dan banyak lagi macam politik kantor lainnya yang dilakukan demi mendapatkan uang, jabatan, kekuasaan dan entah apa lagi.</p>
<p>Kalau para PSK ini menjual fisik, boleh lah dibilang rekan-rekan di kantor saya dulu, termasuk artis-artis yang hobi operasi plastik dan para pejabat korup diatas tadi adalah jenis manusia yang masuk kategori &#8220;manusia yang menjual jiwa&#8221;. Ya, karena mereka rela melakukan hal yang salah dan tidak punya hati nurani maupun keberanian untuk mengakui mereka salah. Seperti orang yang sudah kepalang basah; sudah salah, ya diteruskan saja, toh tidak akan digerebek polisi ini, ya kan?</p>
<p>Lagipula, kalau saya boleh benar-benar jujur, tindakan para aparat yang bersikap &#8217;seakan-akan&#8217; ingin menertibkan ini sungguh kelewatan bodohnya. Setiap tahun ditangkapi, tahun depan ada lagi, kemudian stasiun televisi akan menayangkan hal yang sama lagi, seperti semacam tradisi sakit yang tidak disadari sudah digemari dan menggerogoti mental berjuta-juta penonton televisi di negara ini, ditambah lagi disponsori iklan-iklan yang memasang kedok mengimbuhkan pemirsa untuk menjadi &#8217;suci&#8217; dan saling memaafkan sekaligus promosi produk dengan teknik repetitif untuk cuci otak supaya pemirsa di rumah jadi semakin konsumtif dari hari ke hari.</p>
<p>Daripada bersusah-susah buang uang negara, waktu dan energi, kenapa pemerintah Indonesia tidak sediakan saja vending machine yang menjual kondom dan promosikan Safe Sex, atau lebih baik lagi, legalkan saja bisnis prostitusi dan dijadikan salah satu tujuan pariwisata seperti yang dilakukan pemerintah di Thailand. Mungkin dengan begitu masing-masing kita akan punya lebih banyak waktu untuk introspeksi diri dan menyadari bahwa kita tidak lebih baik dari para PSK di televisi tersebut, lalu berhenti menonton tayangan berita kacangan yang dari tahun ke tahun tidak berubah dan berhenti menjual jiwa kita kepada perusahaan, pekerjaan, jabatan, image dan kekuasaan.</p>
<p>(Yah, mungkin kalau begitu kejadiannya, nanti stasiun televisi tidak laku lagi dong, hehehehe.)</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Ftherrysays.com%2F2008%2F08%2Fmenjual-jiwa%2F';
  addthis_title  = 'Menjual+Jiwa';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://therrysays.com/2008/08/menjual-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
